Jika ada yang bertanya, apa akidahku? ku jawab dengan tegas, aku muslim, aku mengikuti alqur'an dan sunnah, karena aku tahu diri siapalah diriku yang lemah dan jahil ini, maka untuk merealisasikan ikut alqur'an dan sunnah nabi muhamad SAW tersebut aku tidak cukup hebat untuk meyakini dapat menggali sendiri, maka aku mengikuti orang yang lebih berilmu besar dari diriku dan berantai dalam ikut mengikuti hingga jaman tabi'in, para sahabat, jamannya para salafussaleh. Maka kuikuti akidah ahlussunnah waljamaah, akidahnya imam abul hasan asy'ari wa maturidi, aku bermazhab Piqh imam syafii, dan jika ilmuku sampai, insyaAllah aku bertarikah mengikut tarikahnya banyak dari pada cucu sang nabi saw, yaitu salah satunya tarikah alawiyyah, karena hanya tarikah ini kuperhatikan sanad ilmunya paling terjaga dan ulamanya paling tersebar dan dapat saling koreksi mengkoreksi.
Sebuah pengembaraan menghayati sulaman indah Asma'ul Husna: Ayat Kauniah alam semesta baik alam syahadah maupun alam Ghaib, Ayat al Qur'an yang menjelaskan hakikat antero alam, Insan Kamil nan sempurna Nabi Muhammad SAW serta orang yang mengikuti jejak sang Nabi, para Ulama dan Arifbillah yang menjadi lokus cermin Nama-Nama
Sabtu, 28 Juni 2014
Sabtu, 07 Juni 2014
Ta'lim 1 Menghayati ilmu Pendidikan dan Keistimewaan Manusia sebagai makhluk berbudi luhur dan berakal: Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran di kurikulum 2013
- Esensi Pendekatan Ilmiah: Di dalam panduan kurikulum disebutkan: Pembelajaran merupakan proses ilmiah. Karena itu kurikulum 2013 mengamanatkan esensi pendekatan ilmiah dalam pembelajaran. yang tidak terlibat dalam eksperimen.
- Universalitas laju cahaya: Laju cahaya relatif terhadap pengamat yang tidak mengalami percepatan adalah
tidak peduli dengan keadaan gerak relatif sumber cahaya dengan pengamat.
Analisaku soal postulat yang pertama adalah, bahwa semua gerak itu bersifat relatif, soal bagaimana gerak suatu partikel, tergantung dari kerangka acuan yang digunakan. Dan setiap kerangka acuan tersebut bobotnya sama, tidak ada yang lebih istimewa anatara satu dengan lainnya. Artinya jika kita dapat mengukur kecepatan absolut suatu benda atau partikel, maka dapatlah kita tentukan mana partikel yang bergerak atau mana yang diam. Namun problemnya tidak ada satupun bukti eksperimen yang menunjukkan bahwa ada yang namanya kerangka acuan absolut universal tersebut, katakanlah ia ether. Percobaan Michelson dan Morley menunjukkan sama sekali tidak ada kerangka acuan absolut tersebut, bahkan eksperimen juga menemukan kenyataannya yang mengejutkan bahwa laju cahaya bersifat invarian.
Rabu, 14 Mei 2014
Ta'lim 1 Keluh Kesah kepada Allah SWT: Di Tuduh Syiah
Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat dan ada yang banyak menangis karena kufur nikmat. Ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat dan ada yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut. Ada yang berkata bijak tapi tidak memberi teladan dan ada pelacur yang tampil jadi pujaan.
Sekarang setelah dicuci otak begitu rupa kaum yang terjangkit virus "ekstrim" ini seolah telah mengalami "amnesia" sejarah dan lupa dengan asal usulnya. Ketika mereka berteriak-teriak mengkafirkan dan menyesatkan saudaranya yang berakidah ahlusunnah waljamaah asyairah wa maturidhi serta sufi dan menuduhnya sebagai syiah, maka secara tidak langsung mereka telah meyakini kekufuran pendahulu mereka, para ayah2, datuk-datuk dahulu yang telah mewariskan keislaman kepada mereka secara turun temurun yang berakidah sebagaimana di atas, telah mengutuk dan mengkufurkan para pembawa Islam yang membawa agama penuh berkah ini ke nusantara ini yang terdiri dari para sufi waliyullah ahlusunnah waljamaah, telah mengkufurkan orang-orang yang telah menyelamatkan mereka dari kekufuran yang jika bukan karena mereka niscaya mereka hari ini tidak sibuk "mengkafirkan dan menyesatkan sesama saudaranya" melainkan sibuk menyembah arca dan samadhi di kuil-kuil Hindu dan Budha. Adakah kedurhakaan yang lebih parah dari ini?
Sikap lancang tentu lahir dari jiwa yang kasar dan adab yang buruk. Bukan sekali dua ku berinteraksi dengan mereka yang berfaham ekstrim ini dan berakhir dengan luka hati, akhlak mereka yang buruk dalam berinteraksi dengan sesama kaum muslimin sudah bukan rahasia lagi dan benar-benar telah menjadi pola khas. Sikap arogan dan ekslusiv mereka juga begitu khas. Wajah suram dan kata-kata ketus dan keras penuh prasangka buruk dengan mudah terpancar dari wajah mereka. Terkadang kita merasa sangat miris melihat orang-orang yang begitu rajin ke masjid hingga jidatnya menghitam akibat sujud, namun cara dia bertutur dan bersikap mengingatkan kita kepada akhlak-akhlak syaithan yang pernah digelari si burung merak surga karena begitu sombong dan kasar akibat kesalihan zahirnya. Kata-kata kasar penuh ketinggian hati dan kekasaran jiwa dengan mudah kita akses dari cara mereka memanggil dan bersikap kepada orang lain. Main tunjuk kiri, menghardik dan berkata kasar tidak sulit kita temukan, bahkan aku sendiri pernah mereka sepak ketika sedang shalat oleh mereka dengan alasan meluruskan shaff.
Namun ketika mereka mulai mengusik sikap keberagamaanku yang tetap berpegang teguh kepada pemahaman Islam para pendahulu Islam jaman dahulu di nusantara ini, maka jiwa ini terasa membrontak dan ingin memutus diri dari bersilaturrahmi dengan mereka. Apa gunanya ukhwah Islamiyyah pada sahabat yang sangat meyakini kita telah kafir dan halal darahnya? Bahkan ada salah seorang teman yang merupakan aktivis di Muhammadiyyah yang merupakan guru agama yang terjangkit virus ekstrim ini berusaha menjauhkan rekan-rekan dan siswa dari bersilaturrahmi denganku, bahkan pernah kedapatan dia memibisiki sahabat karibku bahwa untuk menjauhi dan mengucilkanku dengan tuduhan bahwa aku berfaham syiah. Andai si aktifis Muhammadiyyah ini tahu betapa diapun akan diperlakukan sama kalau seandainya ia terjun benar-benar dalam kelompok salafiyyah ini, dimana ku tahu persis dari pengalaman nyataku dikelompok tersebut bahwa kelompok ini sangat membenci organisasi dan pergerakan dengan berbagai tuduhan hizbiyyah atau sururiyyah.
Namun entah kenapa begitu mudah mereka bertukar manhaj dan keyakinan. Apakah sebegitu lemah dan tidak kritisnya pemahaman umat di daerahku ini? Masih teringat jelas diingatanku bagaimana beberapa imam masjid, waktu ku sekolah dasar dikampungku, aku masih ingat betapa nikmatnya shalat tarawih dibelakang mereka, zikir jamaah mereka yang begitu lembut dan sangatlah terasa kelembutan di wajahnya yang bercahaya yang jika bertemu wajah mereka mengingatkan kepada Allah SWT, suara indah mereka melantunkan shlawat dan doa serta kebersahajaan mereka di dalam memimpin Yasinan, suasana ukhwah Islamiah sangat terasa, ketika ada yang sakit akan saling menjengung, membaca doa tahlilan bersama-sama, jika ada yang lahir akan dibacakan shlawat dan pembacaan maulid Nabi berupa Barzanji dan lain sebagainya penuh kesyahduan.
Masih ingat jelas dalam memoriku yang indah tentang kemanisan suasana spiritual di masa lalu sebelum penyakit ekstrimisme ini menjangkiti masyarakatku, ada dua orang guru mengajiku, suaranya sangat indah, jika ia azan subuh di mesjid bangkitlah rasa sedih dan kerinduan untuk mendatangi mesjid. Namun ketika ku menyelesaikan kuliahku di jawa dan pulang kampung, keadaan telah berubah banyak. Imam-imam yang biasanya aku sering duduk berdiskusi tiba-tiba usai shalat terlihat melengos pergi begitu saja, dia juga tidak mau lagi menjadi imam, belakangan mereka juga menolak untuk shalat di masjid yang aku masih ingat kami bergotong royong bersama-sama membangunnya dengan alasan mesjid ini telah menjadi sarang kesyirikan karena disamping masjid ada dikubur maqam pewaqaf tanahnya, bahkan bersalaman dengan jamaah lain merekapun enggan, tidak lagi terlihat sunggingan senyuman bak bulan purnama yang selama ini menyertai wajah sang imam. Wajahnya tiba-tiba menjadi keras dan kaku, memang ada bekas hitam seperti tapal kuda di jidatnya, tetapi entah kenapa wajahnya menampakkan kegelapan dan kegersangan, hingga hari ini kupun menjadi takut menyapanya karena entah kenapa hawa kesempitan dan kebencian terasa memancar dari wajahnya. Begitu juga nasib guru mengajiku, guru mengaji yang pertama ketika ku SMP kejadiannya, pergi merantau ke malaysia, pulang-pulang dia telah menjadi gila, ada yang mengatakan ia telah stress di malaysia entah apa sebabnya tiada yang tahu persis. Guru mengajiku yang kedua juga tidak jauh beda, ketika ia sekolah menengah aliah di kotaku dia telah belajar dikelompok keagamaan yang serba ekstrim. Pulang-pulangnya dia menuding bapak dan ibunya sebagai sesat, bahkan dia membuat musholla sendiri dan azan sendiri di puncak kelapa yang berlokasi di belakang rumahnya. Tidak berapa lama wajahnya yang sering membuatku bersemangat ke mesjid untuk berdiskusi dengannya telah berubah dan tampak liar dan keras, belakangan dia benar-benar gila dan tidak bisa lagi jadi panutan. Tidak kurang ada 8 orang imam dan guru mengaji yang kuhitung dikampungku yang tiba-tiba kejangkitan virus ekslusif dan ekstrim ini, bahkan mereka telah bersama-sama membentuk jamah ekslusiv sendiri bahkan menuding masyarakat kampung sebagai biang bid'ah dan kemusyrikan karena merayakan maulid nabi, zikir jamaah dan yasinan. Tinggallah masjid melompong di isi oleh orang tua-tua yang ilmu agama mereka tidak lah seberapa. Hanya Allahlah yang tahu apa sebenarnya terjadi dibalik semua situasi keberagamaan yang ganjil ini.
Sabtu, 03 Mei 2014
Hakikat Seorang Guru
Salah satu kitab pegangan akhlak dan adab seorang penuntut ilmu zaman itu adalah kitab yang saya ambil sebagai nama dari blog ini Ta'lim Muta'allim. Salah satu matannya dari kitab itu berbunyi "Termasuk menghormati guru ialah, hendaknya seorang murid tidak berjalan di depannya, tidak duduk di tempatnya, jika di hadapannya, dan tidak memulai bicara kecuali ada ijinnya. Dalam konsep penddidikan sekuler yang berwawasan profan, adab ilmu sebagaimana yang tertulis dalam buku klasik ini tentu dianggap memancing untuk berpikir dan berwawasan jumud dan tidak kritis. Mereka lupa, untuk menghasilkan siswa yang cerdas dan kritis tidak perlu dicapai dengan mengorbankan adab ilmu, mereka juga tidak perlu harus mengekor dan memuja konsep humanisme dan HAM Barat yang sikap egaliternya telah kebabablasan menabrak akhlak dan adab-adab pentuntut ilmu sebagaimana digariskan oleh Islam.
Kitab karangan Syeikh Az Zamuji ini begitu luar biasa dan menyimpan mutiara sangat mahal dalam hakikat pembelajaran. Kitab yang tipis ini telah beratus tahun menjadi rujukan di sejumlah Pondok dan Lembaga Pendidikan Pesantren.
Satu hal yang saya catat soal perkembangan dunia pendidikan di tanah air adalah kurang jelasnya visi dan misi. Pendidikan kita seolah tidak punya karakter yang jelas, selain seolah seperti "orang yang galau" yang berusaha keras beradaftasi di tengah dunia modern yang begitu cepat berubah dan nilai-nilai yang tidak pernah dipandang mapan.
Selasa, 22 April 2014
Catatan Kecil
Salah satu rahasia kecil namun yang sering diabaikan dan dilupakan orang adalah bahwa setiap orang tidak ada yang ingin direndahkan, tidak ada yang ingin dispelekan, setiap orang bagaimanapun keadaannya ingin dihargai. Jika ingin menarik hati seseorang dan bersahabat dengannya yang terbaik adalah dengan menghargainya dan berusaha menyelami cara pandangnya terhadap hal-hal yang menurut sang sahabat itu penting dan bernilai, persahabatan adalah proses ketika seseorang saling menyelami bagaimana sahabatnya melihat sesuatu dari kacamata orang lain,...bukan dari kaca mata dirinya sendiri ...
Dengan kata lain persahabatan jelas menuntut sebuah taraf kecerdasan emosional tertentu. Karena kesediaan merubah persfektif dan melihat hal-hal dengan cara yang tidak familiar memerlukan daya adaftasi psikologis yang tinggi. Artinya sudah saatnya bagi kita melihat kemampuan untuk menyelami cara pandang orang lain ini sebagai sebuah kepintaran dan kecerdasan yang dihargai tinggi. Negeri ini sebenarnya bukanlah kekurangan orang-orang yang cerdas, orang yang brialian dalam bernalar,, orang yang tangkas dalam menghasilkan karya-karya baik yang berdimensi praktis maupun ilmiah. Namun negeri ini kekurangan orang yang bijak. Jika ia politikus orang bijak ini kita namakan sebagai negarawan. Terlalu sering kita melihat orang yang terlihat dari titelnya sebagai orang yang berilmu tinggi, namun pada kenyataannya kecerdasan emosional dan kedewasaannya setingkat kanak-kanak.
Rabu, 16 April 2014
Catatan sedikit
Kesibukan minggu terakhir ini sibuk mengawas ujian nasional, sebagai pengawas silang diriku dapat tugas mengawas di SMAN 1 bangkinang yang dulunya bernama SMAN 1 Bangkinang seberang. Selain itu sorenya ku isi dengan belajar nyetir mobil baik di tempatku kursus nyetir maupun mencoba mobil baruku sendiri. Semoga dalam minggu ini diriku sudah mahir nyetir mobil sehingga lebih memudahkan berbagai keperluan.
Ngomong-ngomong masalah keterampilan menyetir ini, teringat aku tiba-tiba dengan sebuah hadis daripada rasulullah saw bahwa rasulullah saw memerintahkan kita untuk mengajari anak-anak kita berenang, memanah dan berkuda. Khususnya untuk laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa selain kecakapan intelektual (olah pikir), kecakapan emosional, seorang laki-laki itu juga dituntut untuk mempunyai ketangkasan kinestetik motorik,...khususnya ini berguna ketika ia dewasa dan menjadi kepala rumah tangga. Dalam setting dunia modern, menurutku hadist ini tetap relevan, karena keterampilan motorik praktis ini juga tetap penting, sebagai contoh adalah kemampuan menyetir. Dalam dunia modern yang serba memerlukan mobilitas tinggi ini, kemampuan seorang kepala rumah tangga untuk membawa kendaraan apakah roda dua maupun roda empat jelas penting.