Tampilkan postingan dengan label Ta'lim Hikmah Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ta'lim Hikmah Islami. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 November 2014

1800 liter tinta dari sang Pendekar Ilmu

(Bloger) Akhir-akhir ini berkembang suatu kecendrungan bahwa semua yang modern itu pastilah lebih hebat dan meyakinkan, hingga sampai kepada sikap meremehkan para pendahulu, khususnya para ulama yang selama ini menjadi rujukan umat dan pegangan dalam parameter ukuran seberapa dekatkah kita dengan alQur'an dan Sunnah. Sehingga ada keyakinan, untuk memahami alquran dan sunnah itu, kita langsung atau cukup merujuk para ulama modern yang seolah dianggap jauh lebih berakal dan faham soal ini. Sikap ini karena kurangnya "bercermin diri" dan mengukur "bayang-bayang sepanjang badan". Dalam kesempatan hikmah kali ini mari kita bercermin dan mengukur bayang-bayang sepanjang badan dibanding para ulama terdahulu. Adakah sedikit kemiripan antara mereka dengan diri kita atau orang kontemporer yang kita sanjung setinggi langit itu?

KISAH ULAMA TERDAHULU

Imam Muhammad bin Jarir ath-Thabari, yang diakui sebagai mujtahid mutlak setelah Imam Syafi'i, mampu menghafal buku sebanyak yang dibawa 80 ekor onta, salah satunya adalah 700 jilid buku dalam ilmu tafsir. Al-Hafizh Ibnu Syahin menulis 330 judul buku, di antaranya adalah 1000 jilid kitab tafsir Qur'an dan 1600 jilid kitab al-Musnad. Di akhir hayatnya, ketika jumlah tinta yang ia gunakan untuk menulis ditimbang. Ternyata ia telah menghabiskan 1800 liter tinta. 
(Kumpulan Nasihat & Wasiat Habib Ali al Habsy)

Kamis, 30 Oktober 2014

Dikumpulkan bersama Kekasih

(Bloger) Hati diciptakan untuk menampung rahasia cinta. Namun hati yang tertipu akan mencintai sesuatu yang buruk, misalkan dunia yang fana ini dengan segala pernak-perniknya, baik itu harta benda, tahta wanita, kemasyhuran dan lain sebagainya. Rasulullah telah memberi isyarat dalam sebuah hadist beliau SAW tentang bahayanya sembarang mencintai sesuatu. 

Namun kita juga menemukan fenomena yang disebut sebagai mengaku-ngaku sebagai pecinta,. bagaimanakah persoalan ini dalam pandangan para arifbillah? berikut ulasannya...

Tanya
As-Sayyid al-Jalil 'Isa bin Muhammad al-Habsyi bertanya mengenai Hadist Rasulullah SAW:

Seseorang (akan dikumpulkan) bersama yang ia cintai 
                                                                (HR Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas'ud)

"Apakah Hadis ini berlaku bagi orang yang perbuatan dan ucapannya bertentangan dengan perilaku orang yang di cintainya?"

jawab
Habib 'Abdullah al-Haddad rodhiyallohu 'anhu menjawab:
Ketahuilah, semoga Allah memberimu pengertian, sesungguhnya hadis ini memuat berita gembira sekaligus ancaman. Karena yang dicintai dalam konteks Hadis ini bisa dari golongan orang yang taat kepada Allah (abror) dan bisa juga dari kelompok orang yang durhaka (fujjar). Seseorang yang mencintai dunia yang penuh dengan hal-hal yang terkutuk, tentu ia akan terkutuk pula bersamanya.

Sesungguhnya kebersamaan ini dapat diperoleh oleh setiap pencinta. Namun, cinta tidaklah sah tanpa ada usaha untuk menyesuaikan diri dengan yang dicintai, yaitu dengan meneladani sebatas kemampuan apa yang dilakukan (disukai) dan ditinggalkan (dibenci) oleh sang kekasih. Cinta hanyalah pengakuan yang rapuh kecuali terdapat kesesuaian dengan pribadi yang dicintai. Seseorang yang mengaku cinta tetapi memiliki maksud dan tujuan yang bertentangan dengan maksud dan tujuan orang yang dicintai-meskipun ia mampu menyesuikan diri-dan ia tidak bersedia membantu orang yang membantu orang yang dicintai, dan tidak memusuhi orang yang memusuhi orang yang dicintainya, maka  akan menghukumi bahwa cintanya palsu. Meskipun demikian, untuk memperoleh kebersamaan tersebut tidak disyaratkan bahwa kita harus menyamai orang yang kita cintai dalam segenap urusannya, sebab hal itu memerlukan peneladanan total. Siapa yang mampu berbuat demikian! Jadi, ketahuilah, bahwa cinta selamanya tidak akan diakui tanpa adanya peneladanan.
(An-Nafaisul 'Uluwiyyah:78-79)




   

Selasa, 28 Oktober 2014

Sifat Dunia

(Bloger) Isyarat adalah makanan orang berakal yang mempunyai nurani yang bening dan jernih dalam menangkap kebenaran hikmah. Sebagian dari para ulama yang arif sering memformulasikan kebenaran yang sangat dalam dalam bahasa isyarat atau ungkapan yang ringkas yang bagi orang awam bagai teka-teki yang membingungkan, agar maknanya yang dalam dapat difahami oleh mereka yang mendalam ilmunya dan isyaratnya tidak serta merta "dijual murah" kepada mereka yang mensia-siakannya.

Suatu ketika seorang yang arif bertanya pada seorang waliyullah yang ilmunya mendalam:

Tanya
 As Sayyid Abu Bakar bin Ali bin Ibrahim al-Baiti bertanya tentang ucapan Yahya bin Mu'adz ar-Razi, "Tinggalkanlah dunia seluruhnya, kamu akan memperoleh semuanya. Meninggalkannya adalah dalam mengambilnya dan mengambilnya adalah dalam meninggalkannya"

Jawab
Habib Abdullah al-Haddad ra menjawab:
Ucapan itu jelas dan tidak pelik. Maknanya, barang siapa meninggalkan dunia dengan jalan berzuhud (Zuhud asal katanya berarti tidak menyukai, menjauhi, meninggalkan. Dalam istilah tassawuf berarti meninggalkan keduniaan untuk beribadah secara sempurna) maka Allah akan memberikan kenyamanan (rohah) dalam hatinya dengan jalan mencabut keinginan dan perhatiannya pada dunia, serta memberi kenyamanan pada tubuhnya karena tidak perlu berpenat-penat mencarinya. Orang yang berakal hendaknya bersikap demikian di dunia.

Dalam mencari dunia, manusia berusaha keras lahir dan batin. Ia menempuh jalan yang keliru sehingga sia-sia usahanya. Adapun orang yang zuhud, justru berhasil memperolehnya.
Rasulullah SAW bersabda:
"Hidup zuhud di dunia membuat hati dan badan menjadi tenang dan mendambakan dunia akan memperbanyak duka dan kesusahan" (HR Qadha'i dari Ibnu 'Umar)

Seorang ahli hikmah ditanya,"Untuk siapakah dunia ini?" Ia menjawab, "Untuk orang yang meninggalkannya." Ketika ditanya, "Untuk siapakah akhirat itu?" Jawabnya, "Untuk orang yang mencarinya."
(An-Nafaisul 'Uluwiyyah:188)

Minggu, 26 Oktober 2014

Ilmu dan Adab Menurut Para Arifbillah


"Ketahuilah, adab adalah tepung sedangkan ilmu adalah garamnya.  Ilmu itu hanyalah keberkahan semata " (Kumpulan mutiara nasehat al habib ali al habsy mu'allif simtud duror)

 

Rabu, 22 Oktober 2014

Baik Sangka dan Sikap Positif para Arif

Jiwa yang bersih dan berbaik sangka, tidak mudah menduga yang buruk-buruk kepada sesama saudara muslimin adalah sifat dari manusia yang arif. Namun kita lihat berbaik sangka dan melihat sesama muslimin dengan keyakinan yang baik dan positif adalah fenomena yang semakin luntur di jaman ini. Dengan mudah kita lihat dan kita temukan orang yang tampak "berakal" namun rajin berprasangka buruk kepada sesama, sedikit saja praduga muncul dari syaithan soal saudaranya dengan mudah mereka tanggapi dan yakini. 

Bahkan hal ini dicapai dengan kesibukan mencari-cari dan menduga-duga berbagai kesalahan saudaranya seiman. Dengan enteng label-label buruk akan segera dilontarkan, seperti suka melempar tuduhan-tuduhan, yang terkadang berwujud menjadi sebentuk pembid'ahan, pensyirikan, pengkafiran dan berbagai pelabelan berbahaya dan buruk  lainnya. Begitu juga melemparkan berbagai isyu-isyu yang tidak jelas ketentuannya di bidang politik maupun ekonomi. Hal ini tidak dapat tidak lahir dari jiwa yang suram yang penuh dengan hasad dan dengki dan tidak tersentuh suluh hidayah. Jiwa yang buruk akan melihat keburukan di mana-mana, padahal yang ia lihat keburukan tersebut boleh jadi hanyalah cermin jiwanya yang gelap.

Mari kita hayati bagaimana orang yang berjiwa arif dan bersih bersikap dan betapa bening jiwa-jiwa mereka yang bercahaya dalam melihat cermin dunia ini pada sesama saudaranya kaum muslimin. Para arif biasa mendorong orang pada kondisi yang baik meski yang bersangkutan melakukan sesuatu yang secara kasat mata berbentuk pelanggaran. 

Pada suatu ketika ada seseorang yang mengaku mencuri kepada Rasulullah SAW, lalu beliau bersabda "Setahuku, kau tidak pernah mencuri." (HR. Darimi).

Sahabat Ma'iz ra saat mengakui telah berbuat Zina, Rasulullah SAW bersabda "Mungkin kau hanya mencium atau merangkulnya" (HR. ALBUKHARI). 

Seorang sahabat telah membunuh orang kafir yang telah mengucapkan kalimat "lailahaillallah" nabi SAW bersabda, "apakah engkau telah membelah hatinya?" 

Beliau juga pernah bersabda 
"Janganlah engkau mengira satu kalimat yang keluar dari mulut seorang muslim sebagai kalimat yang buruk, padahal engkau mengenali orang itu ahli berbuat baik." (HR. Al-Baihaqi dalam Syu'ab al Iman)

Al-Allamah al Manawi menyebutkan dalam ath-Thabaqat pada Biografi Imam Ahmad bin Hambal; As-Salafi meriwayatkan dalam athuyurat dari Al-Atiqi  dari Ath-Thurtusi dari Ath-Thabrani dari Abdullah bin Ahmad bin Hambal, ia berkata, "Aku mendengar ayahku ditanya, 'Orang-orang sufi itu duduk-duduk saja di masjid seraya bertawakkal tanpa disertai ilmu.' Imam Ahmad berkata, 'Ilmu yang membuat mereka duduk di masjid.' Dikatakan kepadanya, 'yang mereka pikirkan hanya makanan dan pakaian.' Imam Ahmad berkata, aku tidak mengetahui uzur yang lebih besar dari orang yang cirinya seperti itu.' Dikatakan kepadanya, 'Saat mendengarkan zikir, mereka bangun lalu menari.' Imam Ahmad berkata , 'Biarkan saja mereka bersenang-senang dengan Rabb mereka'." (sumber kisah dari kitab Tahdzir Al-Ikhwan al allamah al muhaqiq Zainal Abidin Ba'alawi)


Sabtu, 18 Oktober 2014

Pengaruh Amal terhadap Hati




Ketahuilah, sesungguhnya berbagai amal baik seperti puasa, shalat dan sejenisnya akan memberikan pengaruh yang baik kepada hati yang lembut dan suci. Orang-orang yang memiliki hati lembut dan baik seharusnya menjadikan amal-amal ini sebagai jalan mereka menuju Allah Ta'ala. Manfaat amal-amal ini untuk orang-orang yang sombong dan berhati keras sangat kecil. Bahkan mereka dapat semakin sombong dan 'ujub karenanya.

Orang-orang yang sombong dan berhati keras harus mengobati penyakitnya dengan amal yang mampu menghancurkan kekuasaan nafs, seperti: Pergaulan dengan orang-orang yang tidak mampu, tawadhu' kepada kaum miskin, meneladani penampilan dan amal mereka, membawa sendiri sedekahnya ke rumah kaum fakir, rumah orang-orang yang tidak di perhatikan dan hatinya luluh (karena Allah) dan mendatangi orang-orang yang tidak di kenal. Pengaruh amal ini bagi nafs yang sulit dan keras lebih baik dari pada pengaruh puasa (sunah) dan shalat (sunah).

Diriwayatkan bahwa ada seorang ulama Bani Israil yang telah mengarang 860 buku hingga namanya tersohor ke seluruh penjuru dunia. Suatu hari Allah Ta'ala mewahyukan kepada seorang Nabi di zaman itu, "Katakanlah kepada Fulan, 'Engkau telah menebarkan kemunafikan di muka bumi. Semua amalmu itu tidak engkau tujukan untuk-Ku.' Ketika Sang Nabi menyampaikan wahyu Allah ini kepadanya, ia segera bersimpuh di hadapannya dan membuang semua bukunya. Selang beberapa waktu ia beribadah dalam sebuah gua di gunung. Allah kembali mewahyukan kepada Sang Nabi, "Temui ulama itu dan katankan padanya, 'Allah berkata Dia tidak meridhoimu." Ketika sang Nabi menyampaikan wahyu ini kepadanya, ia kebingungan dan berkata, "Apa yang harus kulakukan?" Allah Ta'ala lalu memberinya ilham untuk pergi ke pasar dan merendahkan dirinya. Ia pun segera melaksanakan ilham itu; merendahkan dirinya, membantu kaum lemah dan membelai kepala anak yatim. Tak lama kemudian Allah Ta'ala mewahyukan kepada Nabi-Nya, "Katakan kepadanya, 'Sekarang Aku meridhoimu."

Diriwayatkan pula bahwa seorang penjahat Bani Israil bertemu dengan seorang ahli ibadah ('abid) Bani Israil dalam sebuah perjalanan. Penjahat itu mengikuti sang 'abid sambil berkata dalam hati, "Ketika 'abid itu memperoleh rahmat, semoga aku mendapatkannya juga." Dia terus mengikuti si 'abid menoleh dan berkata, "Apa urusanku denganmu, aku adalah 'abid Bani Israil, sedangkan engkau penjahat Bani Israil. Menyingkirlah!" Dia segera pergi meninggalkan sang 'abid dengan hati hancur. Allah Ta'ala lalu mewahyukan kepada Nabi di zaman itu, "katakan kepada penjahat itu, 'Aku telah mengampuni semua dosamu karena engkau merendahkan diri kepada si 'abid.' Dan katakanlah kepada si 'abid, 'Aku telah menghapuskan semua kebaikanmu karena kesombonganmu kepada penjahat itu.' Katakan kepada keduanya untuk segera beramal dari awal."
(Sayyid Muhammad bin 'Abdullah Al-'aidarus dalam kitabnya Idahu Asrori Ulumil Muqorrobin)

Syafaat Sang Nabi


 Senandung Sahabat Mazin ibn al-'Adhub ketika datang kepada Rasulullah SAW untuk memeluk Islam seraya memohon syafaat kepada baginda Nabi SAW

"Kepadamu Wahai Rasulullah....Untaku lari melintasi padang Sahara, dari Oman hingga 'Araj agar engkau memberiku syafa'at, wahai sebaik-baik orang yang menginjak kerikil. Hingga akhirnya Tuhan mengampuniku dan aku pergi membawa kemenangan" (HR. Abu Nu'aim dalam Dalailu al- Nubuwwah).

Kamis, 16 Oktober 2014

Membatalkan Puasa Sunnah demi Doa Seorang Muslim


Suatu hari Syeikh Ma'ruf (alKharki) berjalan melewati seseorang yang membagikan air secara cuma-cuma sembari berkata, "Semoga Allah merahmati seseorang yang mau meminum airku ini." Mendengar doanya Syeikh Ma'ruf yang sedang berpuasa sunnah itu pun segera meraih gelas yang berisi air tersebut dan meminumnya. Seseorang yang menyaksikan peristiwa itu bertanya kepada beliau:

"Bukankah engkau sedang berpuasa, mengapa engkau batalkan puasamu?"


"Benar aku sedang berpuasa, akan tetapi doanya lebih kuharapkan dari pada puasa sunnahku, " jawab beliau

HIKMAH DI BALIK KISAH

Orang-orang saleh terdahulu memiliki jiwa yang bersih. Mereka senantiasa berprasangka baik dan merendahkan diri kepada orang lain. Sehingga, ketika mendengar doa seperti tersebut di atas, mereka sedikitpun tidak berpikir bahwa puasanya lebih hebat dari doa penjaja air tersebut 

(dikutip dari kitab Akhlak Para Wali karya Ustadz Naufal bin Muhammad Al Aidarus)

Rabu, 15 Oktober 2014

Keyakinan dan Prasangka Baik


Pada suatu hari 40 pencuri keluar kota untuk melakukan pekerjaannya. Ketika malam tiba, mereka memasuki sebuah kota. Di kota itu, mereka tidak memiliki teman yang dapat disinggahi atau tempat untuk istirahat. Mereka bertanya kepada penghuni kota di mana mereka bisa istirahat. Orang kota itu menyarankan agar mereka tinggal di pondok pesantren. Mereka kemudian menyamar sebagai penuntut ilmu dan pergi ke suatu pesantren. Sesampainya di sana mereka mengetuk pintu.
"Siapa ya...?" tanya seorang santri.
"Kami hendaK menuntut ilmu di sini," jawab mereka.


Pintu pun lalu dibuka dan mereka mempersilahkan masuk. Malam itu juga mereka menjadi santri di pondok pesantren. Ketika para santri telah lelap dalam tidurnya, mereka melasanakan pekerjaan mereka. Namun, mereka pulang dengan tangan kosong, karena tidak dapat menemukan barang yang pantas dicuri.


Pemilik pesantren memiliki  seorang anak yang telah bertahun-tahun tak mampu berjalan. Ketika melihat para pencuri tadi berwudhu, ia mengambil air bekas wudhu mereka lalu mengusapkan air itu kekaki anaknya dengan niat untuk mendapat berkah mereka. "Semoga Allah menyembuhkan penyakitnya," katanya dalam hati dengan penuh keyakinan.


Ketika para pencuri itu kembali dari pekerjaannya, mereka melihat anak itu berjalan padahal setahu mereka anak ini selama bertahun-tahun hanya bisa duduk saja.


"Bagaimana ia dapat berjalan, bukankah sebeumnya ia hanya bisa duduk saja?" tanya mereka keheranan.


"Benar, ini berkat kalian. Aku mengambil air bekas wudhu kalian dan mengusapkan ke kakinya. Rupanya Allah berkenan menyembuhkannya," jelas pemilik pesantren.


Pencuri itu saling berbisik, "Tuhan memperlakukan kita dengan baik, sedangkan kita selalu bermaksiat kepada-Nya. Kami akan bertobat dan akan bersungguh-sungguh menuntut ilmu."
Mereka semau lalu benar-benar menjadi santri dan selalu tekun menuntut ilmu. Karena kesungguhan mereka, Allah kemudian memberi mereka fath (penyingkapan pemahaman yang besar).


Keyakinan adalah suatu hal yang besar. Disebut dalam sebuah syair.


Jika seseorang meyakini
namun, kenyataan lain dari yang disangka
ia tak akan kecewa
karena Allah akan tetap memberi karunia.

(Dikutip dair kitab Tuhfa al-Asyraf, yaitu kitab yang memuat kalam Habib Muhammad bin Hadi bin Hasan bin 'Abdurrahman as-seqqaf yang ditulis oleh muridnya, Habib Ahmad bin 'Alwi al-Jufri.)

Sabtu, 11 Oktober 2014

Kalam Mulia Tuan Guru


"Hai orang yang mendapat nikmat pandangan mata--syaraf mata yang berjumlah ribuan atau jutaan memindah gambar ke hatinya sehingga ia memiliki banyak pemahaman--bertaqwalah kepada Tuhan Yang telah menciptakan pandangan mata ini dan memberikannya kepadamu. Awaslah, bagaimana engkau gunakan mata itu dan bagaimana mata itu mengarahkanmu. Apakah sudah sesuai tuntunan syariat yang ditetapkan, diterangkan, dan dijadikan oleh-Nya sebagai jalan yang mesti dilaluinya? Ataukah, engkau berani melanggar Tuhan yang menganugrahkan dan memberi nikmat mata ini kepadamu, dengan menggunakannya untuk sesuatu yang diharamkan dan dilarang oleh-Nya untukmu?" (al Habib Umar bin Hafidz, Mamlakatul-Qalbi wal-A'dha')

Jumat, 10 Oktober 2014

Kalam Habib Umar

"Orang-orang cerdas dari kalangan orang-orang Mukmin biasanya jika memiliki hajat apapun yang terkait dengan makhluk dalam wilayah apapun, maka mereka terlebih dahulu menengadahkan hajat itu kepada Allah, memohon dan menghadap kepadaNya. Setelah itu mereka pergi menemui makhluk itu dan menyampaikan keperluan itu kepadanya, dengan hati yang tetap terikat kepada Allah SWT. Kemudian, jika hajat itu sudah terpenuhi, mereka tidak lupa bersyukur kepada orang itu. Jika tidak terpenuhi, mereka memakluminya" (Habib Umar bin Hafidz dalam kitabnya Mamlakatul-Qalbi wal-A'dha')

Minggu, 05 Oktober 2014

Kalam Guru Mulia


Ucapkanlah Perkataan Yang Baik


"Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar)." (QS al Isra'[17]:53)

Kamis, 02 Oktober 2014

Izinkan Daku Berwisata


 Dari Abu Umamah ra meriwayatkan bahwa seseorang bertanya (pada rasulullah SAW), "wahai Rasulullah! Izinkan aku untuk berwisata!" Nabi SAW menjawab, "Sesungguhnya wisata ummatku adalah jihad fi sabilillah 'Azza Wajalla." (HR Abu Dawud)

Komentar Bloger: Hidup seorang muslim adalah perjuangan keras tiada henti, tidak ada waktu berleha-leha dan berlibur sekedar cuci mata, pelesiran menikmati kuliner dan belanja-belanja atau melakukan perjalanan yang jauh tanpa tujuan hikmah yang jelas untuk meraih ridho Allah.

Senin, 29 September 2014

Bukanlah Istimewa


"Bukanlah sesuatu yang istimewa jika seseorang merasa kurang amal, sedangkan dia benar-benar berada dalam kekurangan. Tetapi sesuatu yang istimewa adalah jika merasa kurang amal padahal ia telah berusaha sekuat tenaga" 
                                                          (HABIB ABDULLAH BIN ALAWI AL HADDAD)

Rabu, 27 Agustus 2014

Sejumput nasehat dan renungan

Kunci kesuksesan ada 3, yaitu:
1. Menuntut ilmu dan beramal
2. Istiqomah dan Sabar
3. Saling menghormati

 (al-Habib Abdullah bin Muhsin al Attas)



Minggu, 10 Agustus 2014

Serulah dengan Hikmah dan jangan jadikan umat menjadi Bingung

Jangan Membingungkanlah !!


Di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman :

ادْعُ الى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (النحل : 125
Artinya :
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُواْ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافاً خَافُواْ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُواّ اللَّهَ وَلْيَقُولُواْ قَوْلاً سَدِيداً (النساء : 9)

Artinya :
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

فَقُولاَ لَهُ قَوْلاً لَّيِّناً لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشىَ (طه : 44)



Artinya :
maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut".

Adapun referensi lainnya dapat dilihat dari hadits Rasulullah SAW , Beliau bersabda :

خَاطِبِ النا سَ علىَ قد رِ عُقوُ لِهم

Artinya :
Bicaralah dengan manusia sesuai dengan kadar kemampuan akalnya

Hadits lain menyatakan :

عَلِمُو ا أولادَكُم غيرَ ما عُلِمتُم فـَإ نَهُم خُلِقوُا لِزَ مَنٍ غَيرَ زَمانِكُم

Artinya :
Ajari (didiklah) anak-anakmu tidak sebagaimana (kamu dahulu) dididik (oleh orang tuamu), karena mereka (anak-anakmu) itu dilahirkan pada zaman yang berbeda dengan zamanmu.

Ciptakanlah seekor Lalat

 
يٰۤـاَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسۡتَمِعُوۡا لَهٗ ؕ اِنَّ الَّذِيۡنَ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰهِ لَنۡ يَّخۡلُقُوۡا ذُبَابًا وَّلَوِ اجۡتَمَعُوۡا لَهٗ​ ؕ وَاِنۡ يَّسۡلُبۡهُمُ الذُّبَابُ شَيۡــًٔـا لَّا يَسۡتَـنۡـقِذُوۡهُ مِنۡهُ​ ؕ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالۡمَطۡلُوۡبُ‏ ﴿22:73﴾

(22:73) O people, a parable is set forth: pay heed to it. Those who call upon aught other than Allah shall never be able to create even a fly, even if all of them were to come together to do that. And if the fly were to snatch away anything from them, they would not be able to recover that from it. Powerless is the supplicant; and powerless is he to whom he supplicates.123


123. This parable has been cited to impress upon the idolworshipers that their deities are absolutely powerless, for even if they all collaborated to create an insignificant thing like a fly, they could not; nay, even if a fly snatched away anything from them they could not prevent it. This shows how weak they themselves are and how powerless are the idols they supplicate.

Ya Akhi



Nasehat Guru Mulia

"Ya Akhi bbrp hal antum hrs jadikan fondasi dalam masa hidup ini:

1. Niat dalam hati sll ikut dalam klmpok Nabi Muhammad SAW dan Salafushaleh
2. Jaga Shalat Fardhu scr berjamaah
3. Rutin baca al Qur'an
4. Rutin bc wirid pagi dan malam
5. Jgn sibukkan hati mikirkan kelompok lain
6. Rutin Shalat Tahajjud
7. Rutin hadir majlis taklim ahli Sunnah wal Jamaah

(Sayyid Muhammad Amin bin Idrus bin Abdullah bin Umar bin Syeikh Abu Bakar bin Salim dari Kota Madinah al Munawarah)

Jumat, 08 Agustus 2014

Tafakkur Cinta dan Kekariban dengan Tuhan

The thought of love and friendship with God is the same!

254
The servant of God is like the lover whose thought does not leave his beloved for any reason. If he does so, his love is deficient; for, love is total and there is no room left for anything else. So, his thought is about the beauty of the beloved and her beautiful form, and about her deeds and character. If he thinks about himself, either he does so to make himself more acceptable to his beloved and to seek (the means for) that, or he thinks about that in himself which displeases his beloved and how to avoid that. The thought of love and friendship with God Most Hight is the same.
- Imam al-Ghazali