Tampilkan postingan dengan label Ta'lim Bahaya Syiah dan Ajarannya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ta'lim Bahaya Syiah dan Ajarannya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 November 2014

Keutamaan Para Sahabat ra menurut para Sufi

Sahabat Nabi

Betapa agung keutamaan yang diperoleh para sahabat. Mereka menduduki tingkat shiddiqiyyah. Tiada kedudukan yang lebih tinggi dari kedudukan shiddiqiyyah, kecuali nubuwwah (kenabian). Kebaikan tersebut datang kepada mereka silih berganti; inayah Allah menyertai mereka.

Seorang sahabat dapat melampaui seratus ribu maqam dalam sesaat. Derajat mereka lebih tinggi dari pada orang yang melihat Nabi SAW (bloger: secara yaqadhah) setelah beliau wafat. Sebab, para sahabat melihat Nabi dalam rupa yang sempurna. Sedangkan para wali maksimal melihat Nabi di alam lain. Para sahabat meraih kedudukan itu tanpa usaha yang berarti. Pagi hari mereka masih kafir, masuk waktu Ashar mereka telah mencapai derajat Shiddiqiyyah. (Dalam sebuah syair)


Wahai Ibnu Lasbaath, banjir membasahi tanah berdebu
Waktu dhuha berlalu, sore hari telah hijau semua

Alangkah bodoh orang yang beradab buruk terhadap para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Seorang murid bertanya kepada Syeikhnya, "Siapakah yang lebih utama: Juneid bin Muhammad atau Sahabat Nabi." Gurunya menjawab, "Seorang sahabat paling rendah lebih utama dari 70 Juneid."

Jika qadha dan qadar (bloger: maksudnya fitnah peperangan antara para sahabat ra) berlaku kepada salah seorang dari mereka, maka sesungguhnya mereka memperoleh udzur, atau pahala. Semoga Allah mengaruniai kita kecintaan kepada al Habib shallallahu'alaihi wa sallam dan para sahabatnya ra.
(Kumpulan wasiat dan Nasihat mu'alif simtud dhuror) 


Kamis, 31 Juli 2014

The Biggest lie in Stock Market History Revealed

China Rejects The US-Saudi-Israeli Plan For The Middle East (Cina menolak Rancangan Bagi Timur Tengah ke depan dari aliansi Amerika-Saudi-Israel)

(Blogger: artikel berikut dari http://www.marketoracle.co.uk/Article42131.html yang memberi gambaran apa sebenarnya yang tengah terjadi dari kaum muslimin, khsususnya di wilayah yang merupakan pusat-pusat dari kaum muslimin di timur tengah,..intinya adalah "meraup pundi-pundi duniawi" dengan "mengkhianati Allah dan Rasulnya", perhatikan "dua sumbu syetan" yang tengah mencengkeram kaum muslimin di muka bumi ini, dan perhatikan juga China sebagai sebuah negara adidaya baru lebih memilih sumbu syetan kedua dari varian Islam yang menyimpang juga, yaitu dari kaum Syiah Rafidhah, pelopor lama dari pengusung Ideologi Takfir, yaitu Iran dengan sohibnya Rusia dan konco2nya, suatu pojok lain dari perpanjangan protokoler Zion)

Politics / Middle East Sep 04, 2013 - 12:56 PM GMT
Politics
THE YINON PLAN LIVES ON
Named after Israel's minister of foreign affairs at the time of the 1982 invasion of Lebanon and occupation of Beirut, with about 25 000 dead, this divide-and-rule geostrategy plan for the MENA (Middle East and North Africa) lives on.

Already victims of this strategy since 2011 – operated by Israel, the US and Saudi Arabia – we have the divided and weakened states of Iraq, Libya, Yemen and Syria. Egypt and even Tunisia can also possibly be added to the list. Others can be identified as likely short-term target victim countries.
(Terjemahan Bloger: Rancangan Yinon terus berlangsung. Rancangan yang dinamai  menurut nama menteri luar negeri Israel ini di usulkan pada 1982 ketika berlangsung invasi Libanon serta pendudukan Beirut, di mana telah menewaskan sekitar 25000 jiwa, politik geostrategi memecah belah ini, "pecah belah lalu bagi-bagi" bagi wilayah MENA (wilayah timur tengah dan afrika utara) terus berlanjut bahkan hingga hari ini. 

Hasil dari operasi yang telah berlangsung semenjak tahun 2011--yang dioperasikan oleh Amerika Serikat dan Saudi Arabia serta Israel---telah memecah belah dan melemahkan negara-negara seperti Irak, Libya, Yaman, dan Syria. Mesir dan bahkan Tunisia juga mungkin dimasukkan di dalam daftar. Negara-negara lain dianggap sebagai negara target korban selanjutnya yang berjangka pendek saja.)


In February 1982 the foreign minister Oded Yinon wrote and published ‘A Strategy for Israel in the Nineteen Eighties‘, which outlined strategies for Israel to become the major regional power in the Middle East. High up the list of his recommendations was to decapitate and dissolve surrounding Arab states into sub-nations, warring between themselves. Called the peace-in-the-feud or simply divide and rule, this was part of Yinon's strategy for achieving the long-term Zionist goal of extending the borders of Israel, not saying where but potentially a vast region. His strategy was warmly and publicly supported by leading US policy makers with close ties to Israel, like Richard Perle, by the 1990s.
 (Blogger: Pada Februari 1982 menteri luar negeri Israel Oded Yinon menulis dan menerbitkan "sebuah strategi bagi Israel untuk tahun 1980an," pada mana ia merumuskan strategi agar Israel menjadi kekuatan regional utama di timur tengah. Inti dari pada rekomendasi ini adalah untuk mencabik-cabik dan melelehkan negara-negara arab sekitarnya menjadi sub-negara (negara kecil) yang saling bertempur satu sama lain. Strategi ini dikenal sebagai peace-in-the-feud atau simpelnya adu domba lalu kuasai. Ini merupakan bagian dari strategi Yinon untuk mencapai tujuan jangka panjang Zionis memperluas wilayah Israel Raya, memang tidak disebutkan namun berpotensi meliputi wilayah sangat luas. Strateginya disambut secara terbuka serta hangat oleh pemimpin2 Amerika Serikat yang membuat kebijakan yang sangat dekat dengan Israel, seperti Richard Perle, di tahun 1990an.)

This regional balkanization plan is centred on the exploitation of ethnic, religious, tribal and national divisions within the Arab world. Yinon noted the regional landscape of the MENA was “carved up” mainly by the US, Britain and France after the defeat and collapse of the Ottoman empire in 1917. The hastily traced and arbitrary borders are not faithful to ethnic, religious, and tribal differences between the different peoples in the region – a problem exactly reproduced in Africa, when decolonization started in the 1950s and 1960s. Yinon went on to argue this makes the Arab world a house of cards ready to be pushed over and broken apart into tiny warring states or “chefferies” based on sectarian, ethnic, national, tribal or other divisions.

(Terjemahan Bloger: Balkanisasi (upaya menjadikan suatu daerah bergolak seperti daerah Balkan) berpijak pada usaha untuk mengeksploitasi keragamaan suku, mazhab agama, serta kebangsaan di dunia Arab. Yinon juga mencatat bentang regional dari daerah timur tengah dan afrika utara telah sukses "dibagi-bagi sebagai ghanimah" oleh kekuatan Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis pasca kekalahan dan keruntuhan kekhalifahan Turki Usmaniah pada 1917. Penelusuran yang tergesa-gesa dalam penentuan batasan wilayah tak menentu yang tidak mengacuhkan perbedaan suku, agama, dan kabilah antara berbagai kelompok orang yang berbeda di suatu wilayah --suatu problem yang muncul dengan nyata di afrika, terjadi ketika dekolonisasi berlangsung di tahun 1950an dan tahun 1960an. Yinon selanjutnya berpendapat bahwa potensialitas ini membuat dunia arab  bagaikan sebuah rumah yang tersusun dari kartu-kartu yang siap kapan saja di dorong sedikit lalu tercerai berai menjadi negara-negara yang saling bertempur satu sama lain  atau "pemimpin lokal" yang berdasar kepada mazhab, etnik, kebangsaan, kabilah, atau berbagai bentuk pemisahan lainnya)


Central governments would be decapitated and disappear. Power would be held by the warlord chiefs in the new sub-nations or ‘mini-states’. To be sure, this would certainly remove any real opposition to Israel's coming regional dominance. Yinon said little or nothing about economic “collateral damage”.

(Terjemahan Bloger: Pemerintahan yang memusat akan dicabik-cabik dari dunia arab serta dimusnahkan. Kekuasaan akan dipegang oleh semacam "pemimpin perang" di pecahan subnegara atau "negara mini" tersebut. Tentunya, hal ini memastikan hilangnya oposisi nyata apapun terhadap dominasi yang akan muncul dari Israel terhadap wilayah ini. Namun Yinon sedikit sekali atau tidak menyinggung soal "efek sampingnya" bagi ekonomi wilayah ini. )

To be sure, US and Saudi strategy in the MENA region is claimed to be entirely different, or in the Saudi case similar concerning the means – decapitating central governments – but different concerning the Saudi goal of creating a huge new Caliphate similar to the Ottoman empire. Under the Ottomans nations did not exist, nor their national frontiers, and local governments were weak or very weak.

(Bloger translate: Jelasnya, strategi Amerika Serikat dan Saudi di timur tengah dan afrika utara dikatakan sama sekali berbeda, atau dalam kasus strategi Saudi kesamaanya dengan strategi amerika hanyalah dalam usaha -memecah belah kekuasaan yang memusat--namun perbedaan terkait dengan strategi Saudi sendiri yang bertujuan hendak membangun sebuah kekhalifahan baru yang serupa dengan Kekhalifahan Turki Usmaniyyah. Di mana di bawah kekhalifahan Turki di masa itu, sekat-sekat kebangsaan, batas wilayah tidaklah wujud serta penguasa lokal mempunyai kekuasaan yang terbatas.)

ISLAMIC INSURGENCY IS WELL KNOWN IN CHINA

China knows plenty about Islamic insurgency and its potential to destroy the nation state. Even in the 1980s and 1990s, some 25 years ago, China had an “Islamic insurgency” threat concentrated in its eastern resource-rich and low population Xinjiang region. Before that, since the early days of the Peoples' Republic in the 1950s, China has addressed Islamic insurgency with mostly failed policies and strategies but more recently a double strategy of domestic or local repression, but aid and support to Islamic powers thought able to work against djihadi insurgents – outside China – has produced results.
(Cina sangat faham tentang watak pembrontak Islam serta potensialitasnya dalam menghancurkan negara bangsa. Bahkan di tahun 1980an dan tahun 1990an, kira-kira 25 tahun yang lalu, China mempunyai sebuah ancaman " Islami revolusioner" yang terkonsentrasi di bagian timur yang sumber dayanya kaya namun populasinya sedikit yaitu wilayah Xinjiang. Sebelum itu, semenjak zaman awal RRC tahun 1950an, China telah berkutat dengan Islamik insurgensi dengan kebijakan dan strategi yang sebgian besar gagal namun baru-baru ini suatu strategi ganda dari represi domestik atau lokal, namun didukung kekuatan Islam di luar China mampu menunjukkan hasil dalam menentang pembrontak muslim dalam menekan radikalisme )

The Chinese strategy runs completely against the drift of Western policy and favours Iran.
A report in 'Asia Times', 27 February 2007, said this: “Despite al-Qaeda's efforts to support Muslim insurgents in China, Beijing has succeeded in limiting (its) popular support..... The latest evidence came when China raided a terrorist facility in the country's Xinjiang region, near the borders with Pakistan, Afghanistan, Tajikistan and Kirgizstan. According to reports, 18 terrorists were killed and 17 were captured”.
(Strategi China sepenuhnya bertentangan dengan arus kebijakan barat dan mendukung Iran. Sebuah laporan di "Asia Times," 27 Februari 2007 menyatakan: "Meskipun al-Qaeda menyokong pembrontakan kaum muslimin di China, Beijing telah berhasil membatasi para penyokong populernya,....fakta terbaru adalah ketika China menyerbu sebuah fasilitas teroris di wilayah Xinjiang, dekat perbatasan Pakistan, Afganistan, Tajikistan dan Kirgistan. Menurut laporan tersebut, 18 orang teroris tewas dan 17 orang ditangkap)

Chinese reporting, even official white papers on defence against terror are notoriously imprecise or simply fabricated. The official line is there is no remaining Islamic insurgency and – if there are isolated incidents - China's ability to kill or capture militants without social blowback demonstrates the State's "hearts and minds" policy in Xinjiang, the hearth area for Chinese Muslims, is working. 

Chinese official attitudes to Islamic insurgency are mired with veils of propaganda stretching back to the liberation war against anti-communist forces. These featured the Kuomintang which had a large Muslim contingent in its Kuomintang National Revolutionary Army. The Muslim contingent operated against Mao Zedong's central government forces – and fought the USSR. Its military insurgency against the central government was focused on the provinces of Gansu, Qinghai, Ningxia and Xinjiang and continued for as long as 9 years after Mao took power in Beijing, in 1949.
Adding complexity however, the Muslim armed forces had been especially active against the Soviet Union in the north and west – and by 1959 the Sino-Soviet split was sealed. Armed hostilities by Mao's PLA against the Red Army of the USSR broke out in several border regions, with PLA forces aided by former Muslim insurgents in some theatres. Outside China, and especially for Arab opinion, Mao was confirmed as a revolutionary nationalist similar to non-aligned Arab leaders of the period, like Colonel Husni al-Zaim of Syria and Colonel Nasser of Egypt.
CHINA'S THREAT TO WESTERN STRATEGY IN THE MENA
Especially today, some Western observers feign “surprise” at China's total hostility towards UN Security Council approval for “surgical war” strikes against Syria. The reasons for this overlap with Russia's adamant refusal to go along with US, Saudi Arabian, Turkish and French demands for a UNSC rubber stamp to trigger “regime change” in Syria but are not the same. For China the concept of “regime change” with no clear idea - officially - of what comes next is anathema.
As we know, when or if al Assad falls, only chaos can ensue as the country breaks apart, but this nightmare scenario for China is brushed aside by Western politicians as a subject for “later decision”.
China's successful efforts to keep the global jihad from spreading into its territory is surely and certainly taken as a real challenge by Saudi-backed insurgents in western China. Various reports indicate the al-Qaeda organization trains about 1 000 mostly Xinjiang-origin Uighurs and other Chinese Muslims every year. Located in camps in Afghanistan, Pakistan, Kirgizstan and elsewhere, this terror training has continued since at least the mid-1990s, for a total of more than 15 years.
The focus on Xinjiang, formerly called Turkestan is no accident. The region's Russian influence is still strong, reinforced by Muslim migration from Russia in the 19th century, accelerated by the Russian Civil War and 1917 revolution.  During China's warlord era preceding Mao's rule, the USSR armed and supported the Muslim separatist East Turkestan Republic which only accepted Mao's rule when the PRC under the Chinese communists was fully established in 1949. The longstanding East Turkestan jihadi movement (ETIM) is highly active today after being relaunched in the early 2000's, especially since the Iraq war of 2003. It however mainly acts in “external theatres” such as Pakistan's Baluchistan province. The Baluchi of Pakistan have long-term rebellious relations with the central government in Islamabad, and are allied with Kurd nationalists in Iraq, Syria, Lebanon and Turkey.
The US Council on Foreign Relations in a 29 May 2012 briefing on Xinjiang noted that since the Chinese Qing dynasty collapse of 1912, the region has experienced various types of semi-autonomy and on several occasions declared full independence from China. The Council for example notes that in 1944, factions within Xinjiang declared independence with full support from the USSR, but then cites US State Dept. documents claiming that Uighur-related terrorism has “declined considerably” since the end of the 1990s and  China “overreacts to and exaggerates” Islamic insurgency in Xinjiang.
Notably, the US has declassified the ETIM Islamic movement – despite its terror attacks – as a terrorist organization. The ETIM was defined as such during the Bush administration years, but is no longer listed as a Foreign Terrorist Organization (FTO) in the State Dept. FTO list as from January 2012.
China has fully recognized the Islamic insurgency threat, with its potential for drawing in hostile foreign powers seeking to destroy national unity and break the national government. Its concern, shared by Indian strategists and policy makers is to “stop the rot” in the MENA.
THE CHINESE STRATEGY
Unofficially, China regards the US and Saudi strategy in the MENA and Central Asia as “devil's work” sowing the seeds of long-term insurgency, the collapse of the nation state and with it the economy. The US link with and support to Israel is in no way ignored, notably Israel's Yinon plan for weakening central governments and dissolving the nation state right across the MENA.
China's main concern is that Central Asian states will be affected, or infected by radical Islamic djihadi fighters and insurgents drifting in from the West, from the Middle East and North Africa.  These will back the existing Islamic insurgent and separatist movement in resource-rich Xinjiang. To keep Central Asian states from fomenting trouble in Xinjiang, China has cultivated close diplomatic ties with its neighbors, notably through the Shanghai Cooperation Organization which has a secretariat concerned with counter-insurgency issues.
US analysts however conclude, very hastily, that China “instinctively supports the status quo” and therefore does not have an active international strategy to combat djihadi violence and anarchy outside China. US analysts say, without any logic, that China will respond to and obediently follow initiatives from Washington and other Western powers – as it has starkly not done in the UN Security Council when it concerns the Western powers' long drawn out attempt to repeat, for Syria, their success in 2011 for getting UNSC approval to the NATO war in Libya!
China was enraged, and regarded it as betrayal when its support for limited action by NATO in Libya - a rare instance of China compromising on nonintervention - turned into an all-out “turkey shoot” to destroy the Gaddafi clan. Libya was handed over to djihadi militants, who subsequently declared war against central government, an accelerating process resulting in Libya, today, having no central government with any real authority. That experience certainly hardened Beijing's responses on Syria.
Post-Mao China has restored the concept of Chinese cultural continuity, with a blend of Confucian, Taoist and Buddhist strands which had been been weakened but not completely destroyed in the years of ideologically-driven Communism. For the Communists of Mao's era “history was bunk”, not even a mixed bag but an unqualified evil that must be smashed. The Chinese attitude to radical Islam as embodied in the ideologies of Wahabism and Salafism is the same – they are treated as a denial of world history and its varied cultures, with immediate and real dangers for China. Its counter-insurgency strategy against Islamic radicals is the logical result.
This strategy ensures closer Tehran-Beijing relations, usually described by Western analysts as a “balancing act” between ties to Washington and growing relations with Iran. China and Iran have developed a broad and deep partnership centered on China's oil needs, to be sure, but also including significant non-energy economic ties, arms sales, defense cooperation, and Asian and MENA geostrategic balancing as a counterweight to the policies and strategies of the United States and its local allies, Saudi Arabia and Israel. Chinese attention now focuses the Washington-Riyadh axis and its confused and dangerous MENA region geostrategy, resulting in a de facto proliferation of Islamic djihadi insurgents and the attack on the basic concept of the nation state across the region. The Chinese view is that Iran's version of “Peoples' Islam” is less violent and anarchic, than the Saudi version.
OPPOSING THE WASHINGTON-RIYADH AXIS
Both Chinese and Indian strategists' perceptions of the US-Saudi strategy in the MENA, and other Muslim-majority regions and countries is that it is dangerous and irresponsible. Why the Western democracies led by the US would support or even tolerate the Saudi geostrategy and ignore Israel's Yinon Plan – as presently shown in Syria – is treated by them as almost incomprehensible.
China is Tehran's largest trading partner and customer for oil exports, taking about 20% of Iran's total oil exports, but China's co-operation is seen as critical to the Western, Israeli and Arab Gulf State plan to force Iran to stop uranium enrichment and disable the capacity of its nuclear program to produce nuclear weapons. Repeated high-level attempts to “persuade Beijing” to go along with this plan, such as then-US Treasury Secretary Timothy Geithner's 2012 visit to Beijing, however result each time in Chinese hosts politely but firmly saying no. This is not only motivated by oil supply issues.
Flashpoints revealing the Chinese-US divide on Iran crop up in world news, for example the US unilateral decision in January 2012 to impose sanction on Chinese refiner Zhuhai Zenrong for refining Iranian oil and supplying refined products back to Iran. This US action was described by China's Foreign Ministry spokesman as “totally unreasonable”. He went on to say that “China (has) expressed its strong dissatisfaction and adamant opposition”.
At the same time, China's Xinhua Agency gave prominence to the statement made by Iran's OPEC delegate Mohamed Ali Khatibi: “If the oil producing nations of the (Arab) Gulf decide to substitute Iran's oil, then they will be held responsible for what happens”. Chinese analysts explained that China like India was irritated that Iranian oil sanctions opened the way for further de facto dominance of Saudi Arabia in world export supplies of oil, as well as higher prices.
Iran is however only the third-largest supplier of oil to China, after Angola and Saudi Arabia, with Russia its fourth-largest supplier, using EIA data. This makes it necessary for China to run sustainable relations with the Wahabite Kingdom, which are made sustainable by actions like China's Sinopec in 2012 part-funding the $8.5 billion 400 000 barrels-per-day refinery under construction in the Saudi Red Sea port city of Yanbu. 
The Saudi news and propaganda outlet Al Arabiya repeatedly criticises China and India for their purchase of Iranian oil and refusal to fully apply US-inspired sanctions. A typical broadside of February 2013 was titled “Why is China still dealing with Iran?”, and notably cited US analysts operating in Saudi-funded or aided policy institutes, such as Washington's Institute for Near East Policy as saying: “It’s time we wised up to this dangerous game. From Beijing’s perspective, Iran serves as an important strategic partner and point of leverage against the United States”. US analysts favourable to the Saudi strategy in the MENA - described with approval by President Eisenhower in the 1950s as able to establish a Hollywood style Saudi royal “Islamic Pope” for Muslim lands from Spain to Indonesia – say that Iran is also seen by China as a geopolitical partner able to help China countering US-Saudi and Israeli strategic action in the Middle East.
A 2012 study by US think tank RAND put it bluntly: “Isolated Iran locked in conflict with the United States provides China with a unique opportunity to expand its influence in the Middle East and could pull down the US military in the Gulf.”  The RAND study noted that in the past two decades, Chinese engineers have built housing, bridges, dams, tunnels, railroads, pipelines, steelworks and power plants throughout Iran. The Tehran metro system completed between 2000 and 2006 was a major Chinese engineering project.
THE BIG PICTURE
China's Iran policy and strategy can be called “big picture”. Iranian aid and support to mostly but not exclusively Shia political movements, and insurgents stretches from SE Asia and South Asia, to West and Central Asia, Afghanistan, the Caspian region, and SE Europe to the MENA.  It is however focused on the Arabian peninsula and is inevitably opposed to Saudi geostrategy. This is a known flashpoint and is able to literally trigger a third world war. Avoiding this is the big picture – for China.
Li Weijian, the director of the Research Center of Asian and African Studies at the Shanghai Institute for International Studies puts it so: “China’s stance on the Iranian nuclear issue is not subject to Beijing’s demand for Iranian oil imports, but based on judgment of the whole picture.” China is guided in foreign relations by two basic principles, both of them reflecting domestic priorities. First, China wants a stable international environment so it can pursue domestic economic development without external shocks. Second, China is very sensitive to international policies that ‘interfere in or hamper sovereign decisions”, ultimately tracing to its experience in the 19th and 20th centuries at the hands of Western powers, and the USSR, before and after the emergence of the PRC. It adamantly opposes foreign interference in Taiwan, Tibet, and Xinjiang.
This includes radical Islamist or djihadi interference, backed by any foreign power. While China has on occasions suspected Tehran of stirring Islamic insurgency inside its borders it sees the US-Saudi geostrategy of employing djihadists to do their dirty work as a critical danger, and as wanton interference. Indian attitudes although not yet so firm, are evolving in the same general direction. Both are nuclear weapons powers with massive land armies and more than able to defend themselves.
Claims by Western, mostly US analysts that China views Iran as exhibiting “unpredictable behaviour” in response to US-led sanctions and that Iran is “challenging China’s relations with its regional partners” can be dismissed. In particular and concerning oil, China is well aware that Iran will need many years of oil-sector development to return to anything like pre-Islamic revolution output of more than 5 million barrels a day. Unless oil sanctions are lifted, Iran's oil output will go on declining, further increasing the power of the Gulf States led by Saudi Arabia, and Shia-governed but insurgency threatened Iraq to dictate export prices.
China dismisses the claim that its policies have hampered US and other Western political effort to dissuade Iran from developing nuclear weapons capability.
China's distaste for toppling almost any central government, even those run by dictatorial strongmen springs from a deep sense of history – marked by insecurity about the uncertain political legitimacy of governments arising from civil war and revolution – like the PRC. At its extreme, this Chinese nightmare extends to fears that if the US-Saudi geostrategy can topple governments in the Middle East almost overnight, what will stop them from working to bring down China's government one day? Unlike almost all MENA countries minus the oil exporters, China has scored impressive victories in the fight against poverty. Its economy although slowing creates abundant jobs and opportunity.
For China, this is the only way to progress.
HARDENING POLICIES AND POSITIONS
The emerging Chinese anti-Islamist strategy also underlines a menacing reality for the US and other Western powers. China rejects the belief there is still only one superpower in today's world—the USA. The USA's weakened economy and uncontrollable national debt, its confused and cowardly drone war, its slavish support to Israeli and Saudi whims do not impress China – or India.
To be sure China's classic-conventional weapons development programs lag far behind the US. The Chinese military strategy for pushing back US dominance focuses global reach ballistic missiles, tactical nuclear weapons, drones, submarines, and military space and cyberwarfare capabilities.
With the PLA it possesses the biggest land army in the world. No US warmonger, at least saner versions would “take on China”.
China has invested heavily in Iraq, Saudi Arabia and other Gulf states, as well as Iran. It does not want to see its investment effort destroyed by deliberately promoted Islamic anarchy. Also, its Middle Eastern presence will continue due to the fact that while US dependence on oil imports is declining, China overtook the US as the world's largest oil importer on a daily basis, this year, several years ahead of analysts' consensus forecasts.
The likely result is that China is now poised and almost certain to strengthen relations with Iran. The intensifying Syrian crisis as well as the dangerously out of control US-Saudi-Israeli djihadi strategy, of fomenting sectarian conflict and destroying the nation state in the MENA, will likely prompt China to soon take major initiatives.
By Andrew McKillop
Contact: xtran9@gmail.com
Former chief policy analyst, Division A Policy, DG XVII Energy, European Commission. Andrew McKillop Biographic Highlights
Co-author 'The Doomsday Machine', Palgrave Macmillan USA, 2012
Andrew McKillop has more than 30 years experience in the energy, economic and finance domains. Trained at London UK’s University College, he has had specially long experience of energy policy, project administration and the development and financing of alternate energy. This included his role of in-house Expert on Policy and Programming at the DG XVII-Energy of the European Commission, Director of Information of the OAPEC technology transfer subsidiary, AREC and researcher for UN agencies including the ILO.
© 2013 Copyright Andrew McKillop - All Rights Reserved Disclaimer: The above is a matter of opinion provided for general information purposes only and is not intended as investment advice. Information and analysis above are derived from sources and utilising methods believed to be reliable, but we cannot accept responsibility for any losses you may incur as a result of this analysis. Individuals should consult with their personal financial advisor.
A

Rabu, 30 Juli 2014

Para Ideolog Takfiri

Kelopok Wahabi acapkali sering menuduh Ahlisunnah wal Jamaah memiliki kesamaan dengan Syiah, baik yang mengamalkan tarekat shufi maupun lainnya. Tuduhan tersebut hanya berdasarkan atas kebencian Wahabi terhadap Ahlisunnah, agar ketika mereka disamakan dengan Syiah, maka Sunni menolak dan mengikuti aliran Wahabi. Namun justru Wahabi sendirilah yang memiliki banyak kesamaan dengan Syiah. Fakta-fatka tersebut akan kami urai dalam artikel. 
 
 
Mengkafirkan Sahabat 
 
 
Dalam hadis-hadis sahih ditegaskan bahwa masa sahabat adalah kurun waktu terbaik karena mereka hidup bersama Rasulullah Saw. Namun berbeda bagi Syiah, menurut mereka para sahabat ada yang telah kafir. Bagi Wahabi pula, manhaj ilmu mereka boleh hingga menyebabkan kafirnya sahabat kerana melakukan tawassul di makam Rasulullah Saw !! Maksud dalam gambar dibawah adalah manhaj Ibn Baz menyebabkan sahabat menjadi kafir. Jadi wujud persamaan yang agak serasi manhaj ilmu Syiah dan Wahabi hingga boleh menyebabkan kekafiran Sahabat. 
 
 
 
Kesahihan Atsar Istisqa Di Makam Rasulullah Saw
 
 
Selain al-Hafidz Ibnu Hajar yang menilai sahih, al-Hafidz Ibnu Katsir juga menilai sahih atsar di bawah ini:
 
البداية والنهايةلابن كثير - (ج 7 / ص 105)
وقال الحافظ أبو بكر البيهقي: أخبرنا أبو نصر بن قتادة وأبو بكر الفارسي قالا: حدثنا أبو عمر بن مطر، حدثنا إبراهيم بن علي الذهلي، حدثنا يحيى بن يحيى، حدثنا أبو معاوية، عن الاعمش، عن أبي صالح عن مالك قال: أصاب الناس قحط في زمن عمر بن الخطاب فجاء رجل إلى قبر النبي صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله استسق الله لامتك فإنهم قد هلكوا.فأتاه رسول الله صلى الله عليه وسلم في المنام فقال: إيت عمر فأقره مني السلام واخبرهم أنهم مسقون، وقل له عليك بالكيس الكيس.فأتى الرجل فأخبر عمر فقال: يا رب ما آلوا إلا ما عجزت عنه.
وهذا إسناد صحيح.
 
al-Hafidz adz-Dzahabi juga mengutip riwayat tersebut dan beliau mendiamkannya tanpa komentar tentang kedlaifannya:
تاريخ الإسلام للذهبي – (ج 1 / ص 412)
وقال الأعمش، عن أبي صالح، عن مالك الدار قال: أصاب الناس قحط في زمان عمر، فجاء رجل إلى قبر رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: يل رسول الله استسق الله لأمتك فإنهم قد هلكوا. فأتاه رسول الله صلى الله عليه وسلم في المنام وقال: ائت عمر فأقرئه مني السلام وأخبره أنهم مسقون وقل له: عليك الكيس الكيس، فأتى الرجل فأخبر عمر فبكى وقال: يا رب ما آلو ما عجزت عنه.
 
Terkait dengan keraguan Syaikh Bin Baz bahwa ‘Rajul’ tersebut adalah sahabat, maka cukup dibantah dengan ketegasan pernyataan al-Hafidz Ibnu Hajar bahwa ‘Rajul’ tersebut BENAR-BENAR Bilal bin Harits:
فتح الباري لابن حجر – (ج 3 / ص 441)
وَقَدْ رَوَى سَيْف فِي الْفُتُوح أَنَّ الَّذِي رَأَى الْمَنَام الْمَذْكُور هُوَ بِلَال بْن الْحَارِث الْمُزَنِيُّ أَحَد الصَّحَابَة
 
“Saif BENAR-BENAR meriwayatkan dalam al-Futuh bahwa laki-laki yang melihat mimpi tersebut adalah Bilal bin Harits al-Muzani, salah satu sahabat Nabi” (Fath al-Bari 3/441)
 
 
Jadi al-Hafidz Ibnu Hajar mengutipnya dengan Shighat Jazm (tegas) yang menunjukkan bahwa riwayat tersebut adalah sahih. Kecuali seandainya al-Hafidz Ibnu hajar mengutip dengan redaksi lemah (Shighat Tamridl) seperti “Dikatakan”, “Diriwayatkan” dan lainnya.
 
 
Lebih layak mana antara al-Hafidz Ibnu Hajar yang menilai sahih dan Syaikh Bin Baz, Syaikh Albani dan ulama Wahabi lainnya yang menilai dlaif untuk kita terima?
 
 
Tidak cukupkah bagi pengikut Wahabi bahwa kalimat Syaikh Bin Baz yang berbunyi:
 
وأن ما فعله هذا الرجل منكر ووسيلة إلى الشرك 
 
Menunjukkan bahwa apa yang dilakukan sahabat tersebut mengarah (wasilah) pada syirik? Sementara wasilah memiliki hukum yang sama dengan tujuannya….
 
للوسائل حكم المقاصد


Kepentingan Yahudi 
 
 
 
 
 
 
Syiah secara diam-diam menjalin hubungan yang erat dengan Yahudi. Demikian halnya ulama-ulama Wahabi memberi fatwa-fatwa yang menguntungkan Yahudi. Diantaranya adalah fatwa Syaikh Albani: 
ان على الفلسطينيين ان يغادروا بلادهم ويخرجوا الاى بلاد اخرى وان كل من بقي في فلسطين منهم كافر (فتاوى الالباني جمع عكاشة عبد المنان ص 18)
 
 
“Warga Muslim Palestina harus meninggalkan negerinya ke Negara lain. Semua orang yang masih bertahan di Palestina adalah kafir” (Fatawa al-Albani yang dihimpun oleh Ukasyah Abdul Mannan, Hal. 18) 
Fatwa Kontroversial ini membuat reaksi keras dari berbagai kalangan di Timur Tengah. Sebagian pakar menganggap bahwa logika yang dipakai oleh Albani, ulama Wahabi, adalah logika Yahudi, bukan logika Islam, karena fatwa Wahabi ini menguntungkan Yahudi yang berambisi menguasai negeri Palestina. 
Begitu pula Syaikh Bin Baz, ulama Wahabi. Tahun 1994 ia keluarkan fatwa yang membolehkan kaum Muslimin melakukan perdamaian permanen, tanpa batas dan tanpa syarat dengan Yahudi. Fatwa ini mendapat dukungan dari orang Yahudi, sehingga Simon Perez, Menlu Israil meminta Negara-negara Arab dan kaum Muslimin agar mengikuti fatwa Bin Baz untuk mengadakan hubungan bilateral dengan Israil. Fatwa ini dimuat di berbagai media massa Timur Tengah seperti surat kabar harian Nida’ al-Wathan Lebanon edisi 644, surat kabar al-Diyar Lebanon edisi 2276, surat kabar al-Muslimun Saudi Arabia dan harian Telegraph Australia. 
 
 
Mengkafirkan Umat Islam 
 
 
Umat Islam Ahlusunnah wal Jamaah adalah umat Muslim mayoritas di Dunia setelah Rasulullah Saw wafat. Namun bagi kelompok Syiah dan Wahabi, Ahlisunnah adalah kafir dan musyrik
 
 
 
 
 
Begitu pula pengikut Wahabi menghukumi kafir dan musyrik pada umat Islam serta menghalalkan darah dan hartanya. Diambil dari kitabفضائح الوهابية Syaikh Fathi Al-Mishri Al-Azhari berkata:: 
 
قال مفتي الحنابلة الشيخ محمد بن عبد الله بن حميد النجدي المتوفى سنة 1225 هـ في كتابه “السحب الوابلة على ضرائح الحنابلة” ص 276 عن محمد بن عبد الوهاب :”فإنّه كان إذا باينه أحد وردَّ عليه ولم يقدر على قتله مجاهرةً يرسل إليه من يغتاله في فراشه أو في السوق ليلاً لقوله بتكفير من خالفه واستحلاله قتله” انتهى. 
 
وقال مفتي الشافعية ورئيس المدرسين في مكة أيام السلطان عبد الحميد الشيخ أحمد زيني دحلان في كتابه “الدرر السنية في الرد على الوهابية” صحيفة 46 :”وكان محمد بن عبد الوهاب يقول:”إني أدعوكم إلى التوحيد وترك الشرك بالله وجميع ما هو تحت السبع الطباق مشرك على الإطلاق ومن قتل مشركًا فله الجنة” انتهى. 
 
وكان محمد بن عبد الوهاب وجماعته يحكمون على الناس (أي المسلمين) بالكفر واستباحوا دماءهم وأموالهم وانتهكوا حرمة النبيّ بارتكابهم أنواع التحقير له وكانوا يصرحون بتكفير الأمة منذ ستمائة سنة وأول من صرَّح بذلك محمد بن عبد الوهاب وكان يقول إني أتيتكم بدين جديد. وكان يعتقد أن الإسلام منحصرٌ فيه وفيمن تبعه وأن الناس سواهم كلهم مشركون (انظر “الدرر السنية” ص 42 وما بعدها). 
وذكر المفتي أحمد بن زيني دحلان أيضًا في كتابه أمراء البلد الحرام” ص 297ـ298 أن الوهابية لما دخلوا الطائف قتلوا الناس قتلاً عامًّا واستوعبوا الكبير والصغير والمأمور والأمير والشريف والوضيع وصاروا يذبحون على صدر الأم الطفل الرضيع ويقتلون الناس في البيوت والحوانيت ووجدوا جماعة يتدارسون القرءان فقتلوهم عن ءاخرهم ثم خرجوا إلى المساجد يقتلون الرجل في المسجد وهو راكع أو ساجد ونهبوا النقود والأموال وصاروا يدوسون بأقدامهم المصاحف ونسخ البخاري ومسلم وبقية كتب الحديث والفقه والنحو بعد أن نشروها في الأزقة والبطائح وأخذوا أموال المسلمين واقتسموها كما تقسم غنائم الكفار. 
 
وقال أحمد بن زيني دحلان في “الدرر السنية” صحيفة 57 :”قال السيّد الشيخ علوي ابن أحمد بن حسن الحداد باعلوي في كتابه “جلاء الظلام في الرد على النجدي الذي أضلّ العوام”: والحاصل أن المحقق عندنا من أقواله وأفعاله (أي محمد بن عبد الوهاب) ما يوجب خروجه عن القواعد الإسلامية باستحلاله أمورًا مجمعًا على تحريمها معلومة من الدين بالضرورة مع تنقيصه الأنبياء والمرسلين والأولياء والصالحين، وتنقيصهم كفرٌ بإجماع الأئمة الأربعة” انتهى من كلام أحمد بن زيني دحلان. 
 
فبان واتضح أن محمد بن عبد الوهاب هو وأتباعه جاؤوا بدين جديد ليس هو الإسلام، وكان يقول من دخل في دعوتنا فله ما لنا وعليه ما علينا ومن لم يدخل معنا فهو كافر حلال الدم والمال.
 
“Seorang mufti madzhab Hanbali Syaikh Muhammaad bin Abdullah bin Humaid an-Najdi (w.1225 H) dalam kitabnya al-Suhubu al-Wabilah ‘ala Dhara-ih al-Hanabilah berkata tentang Muhammad bin Abdul Wahhab: “Sesungguhnya dia (Muhammad bin Abdul Wahhab) apabila berselisih dengan seseorang dan tidak bisa membunuhnya terang-terangan maka ia mengutus seseorang untuk membunuhnya ketika dia tidur atau ketika ia berada di pasar pada malam hari. Ini semua dia lakukan karena ia mengkafirkan orang yang menentangnya dan halal untuk dibunuh.” (Muhammad al-Najdi, al-Suhubu al-Wabilah ‘ala Dhara-ih al-Hanabilah, Maktabah al-Imam Ahmad, hal. 276).
 
Mufti madzhab Syafi’i dan kepala dewan pengajar di Makkah pada masa Sultan Abdul Hamid Syekh Ahmad Zaini Dahlan mengatakan bahwa Muhammad ibn Abdul Wahhab pernah mengatakan: 
 
“Sesungguhnya aku mengajak kalian pada tauhid dan meninggalkan syirik pada Allah, semua orang yang berada dibawah langit yang tujuh seluruhnya musyrik secara mutlak sedangkan orang yang membunuh seorang musyrik maka ia akan mendapatkan surga”. (Ahmad Zaini Dahlan, al-Duraru al-Sunniyah fi al-Raddi ’ala al-Wahhabiyah, Kairo: Musthafa al-Babi al-Halabi, hal 46). Itulah pernyataan Muhammad ibn Abdul Wahhab dan kelompoknya yang telah menghukumi umat Islam dengan kekufuran, menghalalkan darah dan harta mereka serta mencabik-cabik kemuliaan nabi dengan melakukan bermacam-macam bentuk penghinaan terhadapnya. Mereka juga terang-terangan mengkafirkan umat sejak 600 tahun, dan orang yang pertama kali terang-terangan dengan hal itu adalah Muhammad ibn Abdul Wahhab, ia mengatakan: “Aku telah datang kepada kalian dengan agama yang baru”. Ia meyakini bahwa Islam hanya ada pada dia dan orang-orang yang mengikutinya dan bahwa manusia selain mereka seluruhnya adalah musyrik.
 
Mufti Ahmad Zaini Dahlan juga menuturkan dalam kitabnya Umara-u al Balad al Haram bahwa orang-orang Wahabi ketika memasuki Thaif mereka melakukan pembantaian massal terhadap masyarakat dalam rumah-rumah mereka, mereka juga membantai orang-orang tua dan anak-anak, rakyat dan pejabat, orang mulia dan yang hina. Mereka menyembelih bayi yang sedang menyusu di depan ibunya. Mereka juga membunuh  manusia di rumah-rumah dan di toko-toko dan ketika mereka menemukan sekelompok orang yang sedang belajar al-Qur’an, mereka membunuh semuanya. Kemudian mereka masuk ke mesjid-mesjid dan membunuh siapapun yang berada di dalam mesjid yang sedang ruku’ atau sujud dan merampas uang dan hartanya. 
 
Kemudian mereka menginjak-injak mushaf, naskah kitab al Bukhari dan Muslim dan kitab-kitab hadits, fikih dan nahwu setelah mereka membuangnya di lorong-lorong jalan dan parit-parit serta mengambil harta umat Islam dan membagikannya sesama mereka layaknya membagi harta rampasan (ghanimah) orang kafir.  (Ahmad Zaini Dahlan, Umara al-Balad al-Haram, hal. 297-298.
 
Ahmad Zaini Dahlan mengatakan: “Sayyid Syekh Alawi ibn Ahmad ibn Hasan al Haddad Ba’alawi dalam kitabnya Jala-u al Dhalam fi al Raddi ‘ala al Najdi al Ladzi Adhalla al ‘Awam mengatakan: Kesimpulannya bagi orang yang mencermati perkataan dan prilaku Muhammad ibn Abdul Wahhab akan mengatakan bahwa ia (Muhammad ibn Abdul Wahhab) telah menyalahi kaidah-kaidah Islam karena ia menghalalkan perkara-perkara yang disepakati akan keharamannya dan status haram tersebut telah diketahui dalam agama oleh semua umat baik yang alim ataupun yang bodoh sekalipun. Juga pelecehannya terhadap para nabi dan rasul, para wali dan orang-orang yang shalih. Pelecehan seperti ini adalah kekufuran dengan ijma’ para imam yang empat. Demikian pemaparan Ahmad Zaini Dahlan. (Lihat al-Durar al-Sunniyah fi al-Raddi ’ala al-Wahhabiyah hal. 57)
 
Dengan demikian menjadi jelas bahwa Muhammad ibn Abdul Wahhab dan para pengikutnya datang dengan membawa agama baru dan bukan membawa agama Islam. Dia pernah mengatakan: “Barang siapa yang masuk dalam dakwah kita maka baginya hak sebagaimana hak kita dan barang siapa yang tidak masuk dalam dakwah kita maka dia kafir halal darah dan hartanya.” (Muhammad bin Abdul Wahhab, Kasyfu al-Syubuhat, Saudi Arabia: Kementerian Wakaf dan Urusan Islam, hal. 7).
 
 
Melarang Salat Janazah Sunni






 
Bagi golongan Syiah, menyalati janazah umat Islam Ahlisunnah adalah tidak wajib, bahkan tidak boleh, karena mereka tidak iman kepada imam-imam Syiah yang 12.

Demikian halnya dengan fatwa-fatwa ulama Wahabi yang menuduh secara keji bahwa umat Islam yang berziarah ke makam Ulama sebagai “Penyembah Kubur” sehingga dihukumi musyrik seperti fatwa Syaikh Bin Baz:



مَنْ كَانَ يُصَلِّي وَيَصُوْمُ وَيَأْتِي بِأَرْكَانِ اْلإِسْلاَمِ إِلاَّ أَنَّهُ يَسْتَغِيْثُ بِاْلأَمْوَاتِ وَالْغَائِبِيْنَ وَبِالْمَلاَئِكَةِ وَنَحْوِ ذَلِكَ فَهُوَ مُشْرِكٌ، وَإِذَا نَصَحَ وَلَمْ يَقْبَلْ وَأَصَرَّ عَلَى ذَلِكَ حَتَّى مَاتَ فَهُوَ مُشْرِكٌ شِرْكًا أَكْبَرَ يُخْرِجُهُ مِنْ مِلَّةِ اْلإِسْلاَمِ، فَلاَ يُغْسَلُ وَلاَ يُصَلَّى عَلَيْهِ صَلاَةَ الْجَنَازَةِ وَلاَ يُدْفَنُ فِي مَقَابِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَلاَ يُدْعَى لَهُ بِالْمَغْفِرَةِ وَلاَ يَرِثُهُ أَوْلاَدُهُ وَلاَ أَبَوَاهُ وَلاَ إِخْوَتُهُ الْمُوَحِّدُوْنَ وَلاَ نَحْوُهُمْ مِمَّنْ هُوَ مُسْلِمٌ لاِخْتِلاَفِهِمْ فِي الدِّيْنِ؛ لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « لاَ يَرِثُ الْمُسْلِمُ الْكَافِرَ، وَلاَ الْكَافِرُ الْمُسْلِمَ » رَوَاهُ الْبُخَارِي وَمُسْلِمٌ (فتاوى اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء – ج 1 / ص 75)
 
“Barangsiapa yang salat, berpuasa dan menjalankan rukun-rukun Islam, hanya saja ia beristighatsah dengan orang mati, orang yang ghaib, malaikat dan lainnya, maka ia Musyrik. Jika ia diberi nasehat dan tidak menerima serta masih tetap melakukan hal itu hingga ia mati, maka ia Msurik dengan syirik besar yang menyebabkan ia keluar dari Islam. Maka mayatnya tidak boleh dimandikan, tidak disalati, tidak dikubur di pemakaman umat Islam, tidak didoakan dengan ampunan, tidak boleh memberi waris dan tidak boleh menerima warisan, karena beda agama. Nabi bersabda: Seorang Muslim tidak boleh memberi warisan kepada orang kafir. Dan orang kafir tidak boleh memberi warisan kepada orang Muslim (HR Bukhari dan Muslim)” (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta’ 1/75)
 
 
Ditulis Oleh: Ustaz Ma’ruf Khozin

Bantahan Syiah

Bantahan Buat Syiah Rafidhoh Yang Mengkafirkan Sahabat Menggunakan Hadith Telaga Haudh

Share Button
UNTUK MENGKAFIRKAN MAYORITAS/SEBAGIAN BESAR SAHABAT  RASULULLAH SAW MAKA PARA ROFIDHOH MENDATANGKAN HADITH-HADITH DIBAWAH INI :

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda :

صحيح البخاري – (ج 20 / ص 248)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ كَانَ يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَرِدُ عَلَيَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَهْطٌ مِنْ أَصْحَابِي فَيُحَلَّئُونَ عَنْ الْحَوْضِ فَأَقُولُ يَا رَبِّ أَصْحَابِي فَيَقُولُ إِنَّكَ لَا عِلْمَ لَكَ بِمَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ إِنَّهُمْ ارْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِهِمْ الْقَهْقَرَى
Akan (datang) di hadapanku kelak sekelompok sahabatku, tapi kemudian mereka dihalau. Aku bertanya, wahai Tuhanku, mereka adalah sahabat-sahabatku. Lalu dikatakan: ‘Kamu tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu. Sesungguhnya mereka murtad dan berpaling (dari agama )
 1476762_10201216862329647_2027166840_n

Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW :

صحيح البخاري – (ج 20 / ص 250)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَا أَنَا قَائِمٌ إِذَا زُمْرَةٌ حَتَّى إِذَا عَرَفْتُهُمْ خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ بَيْنِي وَبَيْنِهِمْ فَقَالَ هَلُمَّ فَقُلْتُ أَيْنَ قَالَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهِ قُلْتُ وَمَا شَأْنُهُمْ قَالَ إِنَّهُمْ ارْتَدُّوا بَعْدَكَ عَلَى أَدْبَارِهِمْ الْقَهْقَرَى ثُمَّ إِذَا زُمْرَةٌ حَتَّى إِذَا عَرَفْتُهُمْ خَرَجَ رَجُلٌ مِنْ بَيْنِي وَبَيْنِهِمْ فَقَالَ هَلُمَّ قُلْتُ أَيْنَ قَالَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهِ قُلْتُ مَا شَأْنُهُمْ قَالَ إِنَّهُمْ ارْتَدُّوا بَعْدَكَ عَلَى أَدْبَارِهِمْ الْقَهْقَرَى فَلَا أُرَاهُ يَخْلُصُ مِنْهُمْ إِلَّا مِثْلُ هَمَلِ النَّعَمِ

Ketika aku sedang berdiri, terlihat olehku sekelompok orang. Setelah aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan mengajak kawan-kawannya, ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? ia menjawab, ‘ke neraka,’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa nasib mereka sampai demikian? Kemudian dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sejak kau tinggalkan dan berbalik ke belakang (kepada kekafiran). Kemudian terlihat sekelompok lain lagi. Ketika aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan menyeru kawan-kawannya: ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? Ia menjawab: ‘Ke neraka’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa mereka? dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sepeninggalmu dan kembali ke belakang. Kulihat tidak ada yang selamat dan lolos kecuali beberapa orang saja yang jumlahnya cukup sedikit, seperti jumlah onta yang tersesat dari rombongannya”.
Dari Abi Bakroh, Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda :

مسند أحمد – (ج 34 / ص 133)
عَنْ أَبِي بَكْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيَرِدَنَّ عَلَيَّ الْحَوْضَ رِجَالٌ مِمَّنْ صَحِبَنِي وَرَآنِي حَتَّى إِذَا رُفِعُوا إِلَيَّ وَرَأَيْتُهُمْ اخْتُلِجُوا دُونِي فَلَأَقُولَنَّ رَبِّ أَصْحَابِي أَصْحَابِي فَيُقَالُ إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ


Akan datang menjumpaiku di telaga (haudh) orang-orang yang pernah bersahabat dan melihatku. Ketika mereka dihadapkan denganku, dan aku kenali mereka, mereka terpelanting dariku. Maka aku berseru, ‘Ya Rabbi, MEREKA ADALAH SAHABATKU.’ Lalu dijawab, ‘Engkau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.


Menurut para Rofidhoh yg selamat dari para sahabat hanya beberapa orang saja, seperti Imam Ali, Fathimah, Hasan, Husain, Salman Al Farisi, Abu Dzar Al ghiffari, Miqdad Radhiyallhu anhum, sedangkan yg lain adalah Ahli neraka ( karena merebut dan bersekongkol atas hak-hak yangg mestinya dimiliki oleh ahlul bait. Benarkah demikian ? sekarang mari kita bahas dan kita radd (bantah) dengan CERDAS permasalahan ini dengan menggunakan DALIL-DALIL YANG TIDAK TERBANTAHKAN !!!

KOMENTAR CERDAS :

Agar kita tidak TERTIPU oleh AJARAN dari PENDUSTA AGAMA dan PARA PELAKNAT SAHABAT YANG DIRIDHOI OLEH ALLAH SWT dan agar kita mengetahui duduk permasalahan dengan jelas mengenai maksud hadith-hadith diatas dan siapa itu Sahabat, silakan dibaca :

Sebagaimana diketahui, lafadz “Sahabat” :

MENURUT BAHASA dapat diartikan sebagai orang yang bermulazamah (menetapi) pada seseorang/haiwan/tempat/waktu baik ada mushohabah (sentuhan) dengan badan/fizikalnya atau dengan pertolongan/perantaraan perkara yg lain. Secara ‘Urf, sahabat adalah hanya diperuntukkan bagi mereka yg sering/banyak melakukan interaksi.Dan dikatakan pula bagi seseorang yg memiliki dan memiliki hak untuk mengelola sesuatu, disebut dengan “Shohibnya” (Pemiliknya).

Lihat :

التعاريف – (ج 1 / ص 445)

الصاحب الملازم إنسانا أو حيوانا أو مكانا أو زمانا ولا فرق بين كون مصاحبته بالبدن وهو الأصل والأكثر أو بالعناية والهمة ولا يقال عرفا إلا لمن كثرت ملازمته ويقال لمالك الشيء صاحبه وكذا لمن يملك التصرف فيه

MENURUT ISTILAH adalah Orang yang bertemu dengan Nabi SAW dalam keadaan Islam (beriman) dan meninggal dalam keadaan masih membawa islam/imannya.

Lihat :

الحافظ ابن حجر ومنهجه في تقريب التهذيب – (ج 1 / ص 15)

اصطلاحاً: من لقي النبي – صلى الله عليه وسلم – مسلماً ومات على الإسلام ، ولو تخللت ذلك ردة على الأصح


Jadi jelas permasalahannya, bahwa di dalam dalam Al Quran/Hadis terkadang memakai lafadz SAHABAT yg bermakana LUGHOTAN ( Secara bahasa) dan terkadang memakai lafadz SAHABAT dg makna ISTILAHAN (Secara Istilah).

Sedang KAUM  PENCACI MAKI SAHABAT sering mencampuradukkan dua pengertian ini untuk MENIPU dan MEMBODOHI KAUM AWWAM !!

Kemudian, mengenai permasalahan hadith-hadith diatas, mari kita buka kamus/fan lughoh arobiyyah, kemudian cari lafadz Ar Rahthu (الرهط) yang mempunyai arti sekelompok , lihat contoh hasil dibawah ini :

العباب الزاخر – (ج 1 / ص 257)
والرهط: مادونَ العشرِة من الرجال لا تكونُ فيهم امرأة

العباب الزاخر – (ج 1 / ص 257)
وقال بعضهم: الرهطُ عند العربِ: عدد يجمع من سَبعةٍ إلى عشرةٍ، قال ابن دريدٍ: وربما جاوز ذلك قليلً، وما دون السبعةِ الثلاثةِ النفرُ

مقاييس اللغة – (ج 2 / ص 372)
(رهط) الراء والهاء والطاء أصلٌ يدلُّ على تجمُّعٍ في النّاسِ وغيرِهم. فالرَّهط: العِصابة من ثلاثةٍ إلى عَشرة. قال الخليل: ما دون السَّبعة إلى الثلاثةِ نفرٌ


‘Ar Rohthu (الرهط) menurut para ahli bahasa Arab adalah sekelompok orang yg kurang dari 10 orang, yaitu terdiri dari 3 atau 7 sampai dengan 10 orang. Yang lain ada yang mengatakan bisa lebih sedikit dari jumlah diatas.

Lalu dari keterangan-keterangan diatas mari kita bandingkan untuk membahas semua hadith yangg dibawakan oleh para Rofidhoh diatas, karena hadith itu satu dengan yang lainnya haruslah saling beriringan dengan tanpa ada perselisihan.

MAKSUD KATA MAYORITAS :

Disebutkan bahwa ada 2 KALI SEKELOMPOK SAHABAT (Bukan seluruh SAHABAT) LUGHOTAN (Bukan ISTILAHAN) YANG DIHALAU MASUK NERAKA, SEDANG YANG SELAMAT CUMA SEDIKIT !!!

Jadi Kalo lafadz Rohtun (sekelompok) itu maksimal terdiri atas 20 orang, maka jumlah mereka TOTALNYA adalah 2 x 10, ternyata Cuma 20 ???? itupun masih dikurangi dengan sejumlah kecil yang selamat.

KESIMPULAN : Jadi Mayoritas yang dimaksud dalam Hadis diatas adalah Mayroritas dari total jumlah 20 orang. BUKAN MAYORITAS KESELURUHAN SAHABAT NABI YANG ADA !!!

MAKSUD KATA SAHABAT :

Disebutkan bahwa sahabat yang dhalau ke neraka diatas adalah kaum MURTAD. Jadi Jelas SAHABAT yg ada dalam hadis2 diatas adalah SAHABAT LUGHOTAN, bukan SAHABAT ISTILAHAN, karena sahabat Istilahan yang mendapat pujian dan keridhoan dari Allah SWT adalah sahabat yang meninggal dalam keadaan masih membawa islam/imannya.

KESIMPULAN : Jadi telah sia-sia lah Usaha dari PARA KAFIRUN dan PENDUSTA AGAMA UNTUK MENODAI KESUCIAN AGAMA ISLAM YANG TELAH DIBAWA OLEH PARA SAHABAT Rhodiyallohu ‘anhu wa rodhuu ‘anhu (Yang diridhoi oleh Allah SWT dan mereka juga ridho kepada Allah SWT.

Dan ini adalah BUKTI OTENTIK Pen-TA’DILAN BAGI PARA SAHABAT dari Allah SWT secara LANGSUNG,  maka TIDAK ADA GUNA DAN PERLUNYA BAGI KAMI UNTUK MELIRIK ATAUPUN MENDENGARKAN APALAGI MEMPERCAYAI UCAPAN2 DARI PARA PENDUSTA AGAMA :

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعاً سُجَّداً يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أ…َثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْأِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً)) الفتح:29


Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhoan-Nya. Tanda-tanda mereka, tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya, karena Allah menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih diantara mereka ampunan dan pahala yang besar.  (QS. Al Fath: 29)


وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (100) [التوبة/100]

100. Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا [الفتح/18]

18. Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا…( البقرة 143)


143. Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu, umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ [آل عمران/110[


110. Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah....

Sedang Pen-TA'DILAN BAGI PARA SAHABAT dari Rasulullah SAW :

صحيح البخاري - (ج 11 / ص 481)
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرُ أُمَّتِي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ قَالَ عِمْرَانُ فَلَا أَدْرِي أَذَكَرَ بَعْدَ قَرْنِهِ قَرْنَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا ثُمَّ إِنَّ بَعْدَكُمْ قَوْمًا يَشْهَدُونَ وَلَا يُسْتَشْهَدُونَ وَيَخُونُونَ وَلَا يُؤْتَمَنُونَ وَيَنْذُرُونَ وَلَا يَفُونَ وَيَظْهَرُ فِيهِمْ السِّمَنُ


Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik umatku adalah yang hidup pada masaku, lalu orang-orang setelah mereka, lalu orang-orang setelah mereka. Kemudian akan datang suatu kaum yang kesaksian mereka mendahului sumpah mereka. Dan mereka mempersaksikan diri sebelum mereka dimintai persaksian.” Hadits ini juga diriwayatkan Abu Hurairah dan ‘Imran bin Hushain. (HR. Bukhari dalam Shahih-nya (3/1335) (3450), dan Muslim dalam Shahih-nya (4/1963) (2534)

صحيح البخاري - (ج 12 / ص 5)
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ


Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kalian mencaci para sahabatku. Demi Zat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, seandainya seorang dari kalian menginfakkan emas seberat Gunung Uhud, maka belum bisa menyamai satu mud atau separuhnya yang diinfakkan oleh seorang dari mereka.” (HR Bukhari dalam Shahih-nya (3/1343) (3470), dan Muslim dalam Shahih-nya (4/1967) (2540)


صحيح مسلم - (ج 12 / ص 352)
فَقَالَ النُّجُومُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ فَإِذَا ذَهَبَتْ النُّجُومُ أَتَى السَّمَاءَ مَا تُوعَدُ وَأَنَا أَمَنَةٌ لِأَصْحَابِي فَإِذَا ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِي مَا يُوعَدُونَ وَأَصْحَابِي أَمَنَةٌ لِأُمَّتِي فَإِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِي أَتَى أُمَّتِي مَا يُوعَدُونَ


Lalu Rasulullah berkata: ‘Bintang-bintang ini merupakan amanah ( penjaga, tanda keamanan ) bagi langit. Apabila bintang-bintang tersebut hilang, maka langit akan tertimpa apa yang telah dijanjikan. Aku adalah amanah (penjaga, tanda keamanan ) para sahabatku. Kalau aku sudah tidak ada, maka mereka, para sahabatku, akan tertimpa apa yang telah dijanjikan. Para sahabatku adalah amanah (penjaga, tanda keamanan ) umatku. Apabila para sahabatku telah tiada, maka umatku pasti akan tertimpa apa yang telah dijanjikan kepada mereka]” Diriwayatkan oleh Muslim no. 2531. Diriwayatkan pula oleh Ahmad 4/398-399

Dan Masih banyak lagi yang lain.

Dari Kitab2 SYIAH, Ini kata2nya Imam Makshum :


أبو عبد الله عليه السلام قال : كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وآله اثني عشر ألفا ثمانية آلاف من المدينة ، و ألفان من مكة ، وألفان من الطلقاء ، ولم ير فيهم قدري ولا مرجي ولا حروري ولا معتزلي ، ولا صحاب رأي ، كانوا يبكون الليل والنهار ويقولون : اقبض أرواحنا من قبل أن نأكل خبز الخمير.”) الخصال، الشيخ الصدوق – ص 639 – 640(


Abu Abdillah As berkata : “Para sahabat Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. ada dua belas ribu orang. Delapan ribu orang dari Madinah, dua ribu orang dari Mekkah, dan DUA RIBU ORANG DARI KALANGAN ATH-THULAQAA’ (yang masuk Islam setelah era Fath Makkah). Dalam diri mereka tidak didapati seorangpun yang menganut paham qadariyah, atau murjiah, atau haruriah, atau mu’tazilah atau rasionalis. Mereka itu selalu menangis di waktu malam dan siang (karena rindu kepada Tuhan mereka) dan mereka berdoa: Ya Allah cabutlah nyawa kami sebelum kami sempat makan roti.” (al Khishal, karya Syaikh Shaduuq, hal. 639-640)

Link :http://www.shiaonlinelibrary.com/%D8%A7%D9%84%D9%83%D8%AA%D8%A8/1137_%D8%A7%D9%84%D8%AE%D8%B5%D8%A7%D9%84-%D8%A7%D9%84%D8%B4%D9%8A%D8%AE-%D8%A7%D9%84%D8%B5%D8%AF%D9%88%D9%82/%D8%A7%D9%84%D8%B5%D9%81%D8%AD%D8%A9_654


قال علي بن موسى الملقب بالرضا – الإمام الثامن عند الشيعة – حينما سئل “عن قول النبي صلى الله عليه وسلم : أصحابي كالنجوم فبأيهم اقتديتم اهديتم ، وعن قوله عليه السلام: دعوا لي أصحابي:؟ فقال: هذا صحيح . (عيون أخبار الرضا (ع)، الشيخ الصدوق ، ج1 ص 93)


Ali bin Musa ar Ridha imam Ahlul Bait ke delapan ketika ditanya tentang sabda Nabi saw: “Para sahabatku seperti bintang gemintang, DENGAN SIAPAPUN DARI MEREKA KALIAN MENGIKUT, NISCAYA KALIAN AKAN MENDAPATKAN PETUNJUK YANG BENAR.” Serta tentang sabda Nabi saw.”Jangan kalian berbuat buruk kepada sahabatku.” ‘Ali ar Ridha menjawab: “hadits itu sahih.” (‘Uyun Akbar ar Ridha, karya Syaikh ash Shaduuq, juz 1 hal. 93)

Link :http://shiaonlinelibrary.com/%D8%A7%D9%84%D9%83%D8%AA%D8%A8/1142_%D8%B9%D9%8A%D9%88%D9%86-%D8%A3%D8%AE%D8%A8%D8%A7%D8%B1-%D8%A7%D9%84%D8%B1%D8%B6%D8%A7-%D8%B9-%D8%A7%D9%84%D8%B4%D9%8A%D8%AE-%D8%A7%D9%84%D8%B5%D8%AF%D9%88%D9%82-%D8%AC-%D9%A1/%D8%A7%D9%84%D8%B5%D9%81%D8%AD%D8%A9_92

إن رجلاً ممن يبغض آل محمد وأصحابه الخيرين، أو واحداً منهم يعذبه الله عذاباً لو قسم على مثل عدد خلق الله لأهلكهم أجمعين. (تفسير الحسن العسكري ص196 ، و بحار الأنوار للمجلسي ج 26 ص 331)

“Orang yang membenci KELUARGA MUHAMMAD dan PARA SAHABATNYA YANG MULIA, atau terhadap salah seorang dari mereka, niscaya Allah akan adzab mereka dengan adzab yang jika ditimpakan kepada seluruh makhluk Allah niscaya binasalah mereka seluruhnya.” (Tafsir al Hasan al ‘Askari, hal. 196. Juga lihat di Biharul Anwar karya Al Majlisi, juz 26, hal. 331)

Dan Masih banyak yang lain.

Dan kaum penipu ingin menipu ummat islam dg mnjadikan dalil sahabat mnjadi kafir (murtad) sebagai bukti sahabat2 yg utama telah murtad dan hanya tersisa 3, padahal jelas2 sepninggal Nabi, banyak org2 yg dahulu bertemu dg Nabi, namun murtad saat beliau wafat, dan siapakah yg memerangi mereka jawabnya jelas para sahabat Rasul yg di tuduh murtad dan senantiasa di hujat, yaitu abubakar wa ashabuh, dan sebagian kecil dr mereka selamat, jk kita lihat dan faham sejarah, ada beberapa dari mereka yg ktika akan di perangi mereka mnyatakan taubat dan kembali mnjadi islam, syiah, belajar sejarah kagak sih? Koq yg begini aja gak faham

Wallohu A’lam……….

MOTTO :

MENGHINA SAHABAT ABU HURAIRAH RA (KITAB AL BUKHORY) BERARTI MENAMPAR MUKA ULAMA SYIAH DAN MENGENCINGI MULUT IMAM MAKSHUM !!!



Lalu dari keterangan2 diatas mari kita komparasikan untuk membahas hadis2 yg dibawakan oleh para Rofidhoh diatas.
Akan kami buat dalam bentuk question :
  1. Siapakah yang dimaksud dengan sekelompok sahabat dalam hadis diatas ?? Apakah yg dimaksud adalah lafadz sahabat secara bahasa ataukah sahabat secara istilah ??
  2.  Berapakah jumlah sahabat yang meninggal dalam keadaan kafir ?? dan bisakah hadis ini digunakan sebagai hujjah untuk menjustifikasi kekafiran bagi mayoritas sahabat ??

BAGI MEREKA YANG MEMPUNYAI AQIDAH YANG LURUS,AKAL YANG CERDAS DAN HATI YANG BERSIH DARI SIFAT IRI, DENGKI DAN HASUD PASTI BISA MENJAWAB 2 PERTANYAAN DIATAS DENGAN BAIK.

Ja'fary

Mazhab Ja’fary dan Kekeliruan Syiah

Share Button
Kenyataan pasti yg terdapat pada Madzhab Ja’fary  adalah : Secara ilmu dan riwayat madzhab ini tidak boleh dikatakan benar- benar mengikuti fiqh yg berasal dari Imam Jafar Shodiq ra atau Aimmah Itsna Asyariyyah.

1476762_10201216862329647_2027166840_n
Percayakah Anda ? Silahkan dibaca terus perbahasan dibawah ini :

Terbukti dari apa yg dikatakan oleh ulama mereka yaitu Abu Ja’far Ath Thusy seorang syekh dari golongan Syiah Imamiyyah, dapat kita lihat dari Kitab ‘Iddatul Ushul karya Asy Syekh Ath Thusi hal 137- 138 :

! وقد ذكرت ما ورد عنهم عليهم السلام من الاحاديث المختلفة التي تختص الفقه في كتابي المعروف ب‍ (الاستبصار) (4) وفي كتاب (تهذيب الاحكام) (5) ما يزيد
________________________________________
[ 138 ]
على خمسة آلاف حديث، وذكرت في أكثرها اختلاف الطائفة في العمل بها وذلك أشهر من أن يخفى حتى انك لو تأملت اختلافهم في هذه الاحكام وجدته يزيد على اختلاف (1) * أبي حنيفة (2)، والشافعي، ومالك (3) ووجدتهم مع هذا الاختلاف العظيم لم يقطع أحد منهم موالاة صاحبه، ولم ينته إلى تضليله وتفسيقه والبراءة من مخالفته

” Dan sesungguhnya aku telah menyebutkan mengenai riwayat-riwayat yang berasal dari para imam tentang hadith-hadith yang mengalami perselisihan, khususnya  masalah fiqih di dalam 2 buah kitabku, yaitu Al Istibshor dan Tahdzibul Ahkam, tidak kurang dari 5000 hadis yg bertentangan ( dari periwayatan para aimmah).
Dan aku telah menyebutkan dalam sebagian besarnya, yaitu perbedaan suatu golongan dalam pengamalannya, demikian itu  adalah hal masyhur yg tidak bisa disembunyikan, sehingga jika engkau renungkan tentang ikhtilaf mereka dalam pengambilan hukum, engkau akan mendapatinya melebihi perselisihan antara Abu Hanifah, Syafi’i, dan Malik. Dan aku menemukan mereka dalam perbedaan yg banyak ini, tidak ada satupun diantara mereka yg bisa memastikan untuk bisa menolong temannya. Dan tiada hentinya untuk menyesatkan dan memfasiqkannya, serta berlepas diri kepada yg menyelisihinya.”

Link : http://www.yasoob.com/books/htm1/m018/22/no2208.html
Dari sisi lain diketahui bahwa mereka tidak memiliki satupun kitab karangan langsung dari Imam Ja’far Shodiq Ra, baik kitab fiqh ataupun hadith yg dikumpulkan ditulis oleh beliau ra, atau bahkan karangan dari murid beliau yg terdekat sekalipun tidak bisa kita jumpai, akan tetapi kitab2 mereka yg ada sekarang ini sanad periwayatan yang mereka tampilkan hanyalah anggapan dan sangkaan yang coba mereka sambung-sambungkan kepada para Imam Ra.

Berikut kutipan dan pengakuan tulus dari seorang ulama kenamaan Syiah yg bernama Syarif Al Murtadlo di dalam kitabnya Rosail Syarif Al Murtadlo juz 3 hal 310 :

فإن معظم الفقه وجمهوره بل جميعه لا يخلو مستنده ممن يذهب مذهب الواقفة، إما أن يكون أصلا في الخبر أو فرعا “، راويا ” عن غيره ومرويا ” عنه. وإلى غلاة، وخطابية، ومخمسة، وأصحاب حلول، كفلان وفلان ومن لا يحصى أيضا ” كثرة

Sesungguhnya kebanyakan fiqh ( Syiah ) bahkan keseluruhanya tidak terlepas dari berpedoman kepada madzhab yg terhenti, adakalanya ushul atau furu’nya khobar itu, keduanya diriwayatkan dari jalur lain dan ada kalanya keduanya darinya, kepada kaum Ghulat, Khitobiyah, Makhmasah, Penganut Hulul, seperti fulan dan fulan serta perowi lain yg tidak terhitung banyaknya ( Ringkasnya Madhab Ja’fary tidak bisa disandarkan dan disambungkan langsung kepada Imam Ja’far Shodiq Ra)

Link : http://www.yasoob.org/books/htm1/m001/00/no0021.html

Maka dari mana dapat dikatakan tentang kebenaran Madzhab Ja’fary adalah bersumber dari Imam Ja’far Shodiq Ra?

Boleh dipastikan bahwa apa yg di akui dalam pemahaman mereka tentang Fiqh Ja’fary adalah bersumber dari Imam Ja’far Shodiq Ra adalah tidak terbukti dengan menggunakan sanad yg pasti, akan tetapi hanya bersumber dari peribadi dari para ulama pengikut Imamiyah itu sendiri, semisal : As Shodr, Al Sistany, Al Khu’i, Al Khomainy, Al Khemenei, dsb.

Adapun kitab rujukan bab fiqh yg tertua dari dari Madzhab Imamiyah adalah kitab Furu’ Al Kafi Al Kulainy yg wafat pada 329 h atau setelah wafatnya Imam Ja’far Shodiq Ra 180 thn, kemudian kitab berikutnya kitab Man La Yadurruhul Faqih karya Muhammad bin Ali bin Babawaihy Al Qummy yg wafat thn 381 h atau setelah wafatnya Imam Ja’far Ash Shodiq Ra berkisar 230 thn kemudian.

Maka boleh dipastikan bahwa madzhab 4 dari Ahlus sunnah lebih mendekati kepada para Imam Ahlul Bayt karena Imam Malik Ra(93-179h) adalah murid langsung dari Imam Ja’far Shodiq Ra,

Imam Syafii Ra(150-204h) adalah murid langsung dari Imam Malik Ra

Imam Abu Hanifah Ra(80-151h) adalah murid langsung dari ayah Imam Ja’far Shodiq Ra, yaitu Imam Muhammad Al Baqir Ra.

Maka boleh kita perhatikan perbezaan tahun dari kehidupan mereka, siapa yg lebih dekat kepada Imam Ja’far Shodiq Ra.

1. Imam Ja’far Shodiq Ra hidup pada thn 80-114 h

2. Imam Abu Hanifah Ra 80 -151 h sezaman dgn Imam Ja’far Shadiq ra dan menjadi murid ayahnya Imam Muhammad Al Baqir Ra

3. Imam Malik Ra 93-179 h murid dari Imam Ja’far Shodiq Ra

4. Imam Syafii Ra 150-204 h atau 36 thn setelah wafat Imam Ja’far Shodiq Ra

Boleh dibandingkan dengan rujukan sumber rujukan madzhab Ja’fary ( bukan pencetus madzhab Ja’fary)

5. Alkulainy ( Ulama Syiah ) 294 h atau 180 thn stlh wafat Imam Ja’far Shodiq Ra

6. Muhammad bin Ali Babawaihy ( Ulama Syiah ) 344h atau 230 thn setelah wafat imam Ja’far Shodiq Ra.

Maka dari sini dapat diketahui, siapa yg lebih berhak menuntut mewarisi ilmu dari para Imam Ahlul Bayt secara sanad ilmu dan kedekatan ? Karena jelas di akui dalam sejarah bahwa ke empat madzhab yg dianut ahlus sunnah adalah para pecinta Ahlul Bayt sejati dalam perjuangannya membela para Ahlul Bayt dalam ajaran dan keyakinanya .

Ada satu komentar menarik dari Ath Thusi mengenai orang yg telah mengetahui perbezaan-perbezaan yang terjadi diantara ulama mereka ini :

ومن بلغ إلى هذا الحد لا يحسن مكالمته، ويجب التغافل عنه بالسكوت

Barang siapa yg sampai pada batas ini, maka tidak bagus untuk membicarakannya. Wajib baginya untuk melupakannya dengan cara diam !!

Rabu, 02 Juli 2014

Ta'lim 1 Mewaspadai Sesat Pikir dan Pemahaman: Bahaya Syiah

Bahaya Syiah Bagi Umat Islam

Keutamaan Ahlussunnah Waljamaah

Di zaman Rasulullah   صلى الله عليه وسلم kaum muslimin dalam keadaan terang benderang nikmat persatuan. Belum ada perpecahan dan golongan-golongan seperti zaman sekarang. Tidak ada yang namanya syiah atau bukan syiah dan semuanya di bawah komando Rasulullah صلى الله عليه وسلم    Bila ada perbedaan pendapat atau masalah para sahabat رضي الله عنهم  langsung saja datang kepada Rasul. Itulah yang membuat para sahabat saat itu tidak sampai terpecah belah, baik dalam masalah akidah, maupun dalam urusan duniawi.

Kemudian setelah rasulullah  صلى الله عليه وسلم wafat, benih-benih perpecahan mulai tampak dan puncaknya terjadi saat Imam Ali KW menjadi khalifah. Namun perpecahan tersebut hanya bersifat politik. Sedang akidah mereka tetap satu yaitu akidah Islamiyyah, meskipun saat itu benih-benih penyimpangan dalam akidah sudah mulai ditebarkan Ibn Saba', seseorang yang dalam sejarah Islam dikenal sebagai pencetus faham Syi'ah (Rawafid).